IKLAN KUPING KANAN PASISI 12
IKLAN POSISI 13

Tim PPUB Teknil Sipil UNP Edukasi Siswa SDN 35 Gumarang Agam Mitigasi Banjir Terapkan Biopori

Foto bersama Tim PPUB Teknik Sipil FT UNP dipimpin Syahril Rahmat, S.T., M.Sc,di SDN 35 Gumarang, Desa Gumarang, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Foto-Foto: Tim PKM Teknik Sipil UNP
Foto bersama Tim PPUB Teknik Sipil FT UNP dipimpin Syahril Rahmat, S.T., M.Sc,di SDN 35 Gumarang, Desa Gumarang, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Foto-Foto: Tim PKM Teknik Sipil UNP
PT GITO PERDANA SEJAHTERA

PALEMBAYAN, KABUPATEN AGAM – Pengabdian kepada masyarakat merupakan salah satu wujud pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi yang dilaksanakan oleh Tim Program Pengabdian UNP Berdampak (PPUB) dari Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Padang (FT UNP) di SDN 35 Gumarang, Desa Gumarang, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

Ketua Tim Pengabdian Departemen Teknik Sipil FT UNP, Syahril Rahmat, S.T., M.Sc, menyebutkan bahwa kegiatan ini bertujuan meningkatkan kewaspadaan dini dan kesiapsiagaan siswa sekolah dasar terhadap banjir dan tanah longsor melalui edukasi kebencanaan serta penerapan teknologi mitigasi sederhana berupa lubang resapan biopori. Tim terdiri atas tiga dosen dan lima mahasiswa Departemen Teknik Sipil FT UNP.

Model Biopori.
Model Biopori.

Desa Gumarang berbatasan langsung dengan Desa Salareh Aia yang sebelumnya terdampak banjir bandang atau galodo. Kondisi wilayah yang berbukit dengan tanah yang relatif labil membuat desa ini berpotensi mengalami banjir limpasan dan longsor, terutama saat curah hujan tinggi. Sebelum kegiatan, SDN 35 Gumarang belum memiliki program edukasi kebencanaan yang terstruktur, dan di lingkungan sekolah belum ada sistem resapan air sederhana.

Advertisement
BANNER POSISI 14
Scroll kebawah untuk lihat konten
Kegiatan yang dilaksanakan sepanjang tahun 2026 tersebut dimulai dengan sosialisasi kepada seluruh siswa, mencakup jenis dan penyebab banjir bandang serta longsor, tanda-tanda awal bencana, dan tindakan yang perlu dilakukan sebelum, saat, dan setelah bencana. Materi disampaikan secara interaktif dengan media visual, diskusi, dan simulasi sederhana. Tim juga memberikan souvenir kepada siswa yang aktif berpartisipasi. Sebanyak 84% siswa dan guru mengikuti simulasi kesiapsiagaan dengan benar.

Persiapan pembuatan biopori.
Persiapan pembuatan biopori.

Pada tahap praktik, siswa terlihat antusias mengikuti pembuatan biopori di halaman sekolah. Tim lebih dulu menjelaskan bagian-bagian biopori, kemudian menggali tanah dengan bor tangan, memasukkan pipa PVC berlubang, dan memasang penutupnya. Pipa yang digunakan berdiameter 10–30 cm dan tinggi 50–100 cm, bahan yang murah, tahan lembap, dan aman bagi anak-anak. Hasilnya, 15 titik biopori terpasang di lingkungan sekolah.

Penyampaian teori Biopori.
Penyampaian teori Biopori.

Biopori berfungsi meningkatkan daya serap air hujan ke dalam tanah sehingga mengurangi limpasan dan genangan, menjaga cadangan air tanah, serta menjadi tempat pengolahan sampah organik secara alami. Selain itu, biopori yang dibuat bersama siswa menjadi media belajar lingkungan dan mitigasi bencana yang dapat ditiru masyarakat. Dengan demikian, dampak biopori tidak hanya pada pengurangan risiko genangan, tetapi juga pada tumbuhnya kebiasaan peduli lingkungan sejak dini.

Hasil evaluasi pada 21 siswa kelas 5 menunjukkan peningkatan pengetahuan dan kesiapsiagaan. Rata-rata skor naik dari 79,05% pada pre-test menjadi 90,48% pada post-test, atau bertambah 11,43 poin, dan tidak ada siswa yang skornya menurun. Peningkatan terbesar terjadi pada pengetahuan dan penerapan biopori, dari 65,48% menjadi 84,52%. Pengetahuan tentang penyebab banjir bandang dan longsor mencapai 98,81%, tanda-tanda awal bencana 95,24%, tindakan sebelum dan saat bencana 88,10%, serta tindakan setelah bencana 85,71%.

Suasana praktek.
Suasana praktek.

Hasil evaluasi juga menunjukkan bahwa kesiapsiagaan sebelum dan saat bencana mengalami peningkatan terkecil, sehingga simulasi evakuasi perlu dijadwalkan secara berkala di sekolah. Evaluasi ini dilakukan pada sampel yang kecil dan bersifat jangka pendek, sehingga evaluasi lanjutan tetap diperlukan untuk memastikan pengetahuan tersebut bertahan.

Kegiatan ini mendapat dukungan dari pihak sekolah dan pemerintah desa. Sebagai bentuk keberlanjutan, tim melakukan pendampingan melalui empat kali kunjungan ke sekolah pada 10 Maret, 18 Juli, 24 Agustus, dan 7 September 2026, melampaui target minimal tiga kali kunjungan. Seluruh target luaran kegiatan, yaitu sosialisasi, simulasi kesiapsiagaan, pelatihan dan praktik biopori, edukasi lingkungan, serta pendampingan, dinyatakan telah tercapai.

Siswa lakukan praktek.
Siswa lakukan praktek.

Tim berharap penerapan teknologi sederhana seperti biopori dapat ditiru di rumah siswa dan di sekolah lain di wilayah rawan bencana, dan pengetahuan yang diperoleh siswa dapat berkembang menjadi budaya siaga bencana yang bertahan lama. Dokumentasi kegiatan juga dikemas dalam video yang dapat disaksikan di kanal YouTube Syahril Rahmat. (R/BM)

Editor : Marjeni Rokcalva
IKLAN POSISI 15
Bagikan

Berita Terkait
AMSI MEMBER
Terkini
BANNER POSOSI 5
IKLAN LAYANAN MASYARAKAT SAMPAH