IKLAN KUPING KANAN PASISI 12
IKLAN POSISI 13

Pertunjukan Bala Bhumi: Suarakan Krisis Ekologis di Panggung Teater Kontemporer Hitam Putih Sumbar

Karya teater Bala Bhumi sutradara Afrizal Harun dari Komunitas Seni Hitam Putih saat proses latihan jelang dipentaskan pada Rabu, 2 September 2026 di Taman Budaya Sumbar. Foto Denny Cidaik.
Karya teater Bala Bhumi sutradara Afrizal Harun dari Komunitas Seni Hitam Putih saat proses latihan jelang dipentaskan pada Rabu, 2 September 2026 di Taman Budaya Sumbar. Foto Denny Cidaik.
PT GITO PERDANA SEJAHTERA

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat, Syaiful Bahri, menyatakan bahwa pemerintah sangat terbuka terhadap kerja kolaborasi bersama komunitas seni. Ia menilai kesenian tidak boleh berjalan terisolasi; sinergi dengan berbagai lembaga sangat dibutuhkan agar karya kreatif memberikan dampak sosial yang luas.

Senada dengan itu, Kepala Taman Budaya Sumatera Barat, M. Devid, menegaskan bahwa ruang kebudayaan harus berfungsi sebagai tempat pertemuan ide-ide kritis masyarakat. Taman Budaya tidak hanya menyediakan ruang dan fasilitas teknis seperti pencahayaan serta tata suara, tetapi juga mendorong integrasi antara isu seni dan isu lingkungan.

Mempertemukan Bahasa Seni dan Realitas Ekologis

Sesi diskusi pasca-pertunjukan yang menghadirkan Khalid Saifullah aktivis lingkungan yang membawa rekam jejak panjang dalam advokasi konflik sumber daya alam dan risiko bencana.Kini ia dewan pengarah Forum Pengurangan Risiko Bencana Sumatera Barat.

Advertisement
BANNER POSISI 14
Scroll kebawah untuk lihat konten
Khalid secara konsisten mengingatkan bahwa bencana alam di Sumatera Barat—seperti banjir dan tanah longsor—bukanlah sekadar fenomena alam biasa, melainkan bencana ekologis akibat pembalakan liar, alih fungsi lahan perkebunan, dan pertambangan yang merusak. Perspectif ini sangat selaras dengan pesan Bala Bhumi bahwa bencana adalah buah dari keserakahan dan tindakan manusia sendiri (bala, ulah manusia).

Melalui dialog ini, panggung pertunjukan berhasil menjembatani dua dunia: pengalaman estetis-artistik para seniman dengan data faktual advokasi para aktivis. Isu pencemaran sungai, penggundulan hutan, dan alih fungsi lahan tidak berhenti sebagai tontonan visual, tetapi bermutasi menjadi ruang refleksi mendasar bagi penonton. (R/BM)

Editor : Marjeni Rokcalva
IKLAN POSISI 15
Bagikan

Berita Terkait
AMSI MEMBER
Terkini
BANNER POSOSI 5
IKLAN LAYANAN MASYARAKAT SAMPAH