“Kita baru sekitar 5 persen yang dimanfaatkan. Artinya, masih banyak potensi yang bisa kita kembangkan,” ungkapnya.
Saat ini, pemanfaatan panas bumi di Sumbar yang telah berjalan antara lain melalui Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Muara Laboh di Kabupaten Solok Selatan dengan kapasitas sekitar 86 MW. Pengembangan Muara Laboh Unit-2 berkapasitas 80 MW juga tengah berjalan dengan nilai investasi sekitar USD490 juta dan ditargetkan beroperasi pada akhir 2027.
Menurut Mahyeldi, tantangan utama dalam pengembangan geothermal adalah kebutuhan investasi yang besar serta perlunya kepastian dan kemudahan bagi investor. Karena itu, pemerintah daerah terus mendorong adanya percepatan pengembangan wilayah kerja panas bumi dan penguatan dukungan dari pemerintah pusat.
Mahyeldi menambahkan, sejumlah langkah pengembangan pemanfaatan energi terbarukan ini juga terus berlangsung di Sumbar. Di antaranya pengembangan PLTP Muara Laboh Unit-2, pengeboran sumur eksplorasi Bonjol di Pasaman Barat, serta survei pendahuluan di wilayah Cubadak Panti.
Editor : Marjeni Rokcalva






