IKLAN KUPING KANAN PASISI 12
IKLAN POSISI 13

Perjuangkan Adi Negoro Jadi Pahlawan, Azis Syamsudin: Kami Butuh Dukungan Suara Ormas

Wakil Ketua DPR RI Bidang Korpolkam Dr.H.M Aziz Syamsudin saat di Sawahlunto. Foto Yos
Wakil Ketua DPR RI Bidang Korpolkam Dr.H.M Aziz Syamsudin saat di Sawahlunto. Foto Yos
PT GITO PERDANA SEJAHTERA

Sekilas Adi Negoro

Adi Negoro, di kutip dari berbagai sumber, bernama lengkap Djamaluddin Maradjo Sutan. Dia lahir di Nagari Talawi, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, 14 Agustus 1904, dan meninggal di Jakarta 8 Januari 1967. Dia adalah seorang sastrawan dan wartawan kawakan lulusan pendidikan STOVIA 1918-1925. Punya pengalaman tentang jurnalistik, geografi, kartiografi, dan geopolitik di Belanda dan Jerman pada tahuin 1926-1930.

Adi Negoro, beristerikan Alidas asal Nagari Sulit Air, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Dia merupakan saudara satu bapak lain ibu dengan tokoh pahlawan nasional Mr.Muhammad Yamin. Ayahnya bernama Usman gelar Bagindo Chatib dan ibunya bernama Sadarijah, sedangkan ibu Muhammad Yamin bernama Rohimah.

Kenapa nama Djamaluddin berganti Adinegoro ? menurut sejarah, dia terpaksa memakai nama samaran karena ketika bersekolah di STOVIA tidak dibenarkan menulis dan jadi sastrawan. Padahal, dia punya bakat menulis yang cukup tinggi. Sehingga dia harus menyamarkan namanya dari Djamaluddin menjadi Adinegoro, sebagai identitas barunya.

Dengan nama Adi Negoro yang berbau Jawa,dia leluasa menyalurkan hobinya menulis dan mempublikasikan tulisannya tanpa diketahui orang bahwa Adinegoro itu adalah Djamaluddin Dt.Maradjo Sutan. Oleh karena itulah, nama Adinegoro justru lebih dikenal dari pada nama aslinya Djamaluddin.

Adi Negoro, memulai kariernya sebagai wartawan di majalah Caya Hindia. Dia sering membuat artikel tentang masalah luar negeri di majalah tersebut. Saat menuntut ilmu di luar negeri tahun 1926--1930, dia merangkap sebagai wartawan lepas di koran Pewarta Deli Medan, dan koran BIntang Timur setrta Panji Pustaka di Batavia.

Advertisement
BANNER POSISI 14
Scroll kebawah untuk lihat konten
Dengan pengalaman dan ilmu yang diperoleh dari luar negeri, dan sebagai wartawan, Adi Negoro kembali ke tanah air, dan diberi jabatan memimpin majalah Panji Pustaka ditahun 1931 selama 6 bulan.

Kemudianditawari untuk memimpin surat kabar Pewarta Deli, Medan, tahun 1932-1942. Lantas ikut memimpin Sumatra Shimbun sekitar 2 tahun. Kharismanya terus melejit, bersama dengan Prof.Dr.Sutomo dia menjadi pememimpin majalah Mimbar Indonesia tahun 1948-1950.

Kemudian dia diberi tanggungjawan memimpin Yayasan Pers Biro Indonesia pada tahun 1951. Tokoh Adi Negoro mengakhiri hidupnya dengan bekerja di Kantor Berita Nasional yang kini bernama LKBN Antara.

Alat perjuangannya dalam kemerdekaan Indonesia melalui karya-karya jusnalistik.

Editor :
Tag:
IKLAN POSISI 15
Bagikan

Berita Terkait
AMSI MEMBER
Terkini
BANNER POSOSI 5
IKLAN LAYANAN MASYARAKAT SAMPAH