Ada sebuah momen yang terjadi di Depo Semper, Jakarta Utara, pada pagi hari 19 Maret 2025. Putiarsa Bagus Wibowo, Manager Corporate Communication & Relations PT Elnusa Petrofin, berdiri di hadapan tumpukan paket sembako sambil disambut oleh Babinsa Koramil Koja, Bhabinkabtibmas Polsek Koja, Kepala RW, dan tokoh masyarakat Rawabadak Selatan. Ini bukan sekadar acara bagi-bagi sembako. Ini adalah ritual pembangunan kepercayaan yang dilakukan berulang kali, di puluhan titik, sebagai bagian dari hubungan jangka panjang antara sebuah perusahaan energi dan komunitas yang menjadi tetangganya.
Ketua RW 004 Rawabadak Selatan, Faisal, mengucapkan sesuatu yang bukan sekadar basa-basi: bahwa EPN rutin membantu warga di lingkungan sekitar perusahaan. Kata 'rutin' itu kunci. Dalam pembangunan modal sosial, konsistensi adalah segalanya.
Satu kali pemberian besar tidak akan membangun kepercayaan yang sama kuatnya dengan kehadiran yang berulang, prediktabel, dan responsif terhadap kebutuhan nyata komunitas. EPN menyalurkan 10.872 paket sembako di 92 titik wilayah operasional pada Ramadan tahun lalu, angka yang mengesankan. Satu yang lebih penting, fakta bahwa ini adalah program yang dijalankan rutin setiap tahun.
Sifat nasional dari program CSR EPN layak mendapat perhatian khusus. Sebagai perusahaan yang unit operasinya tersebar dari Sabang hingga Merauke, EPN tidak hanya beroperasi di kota-kota besar. Armada tangka melintas di Sumatra, Sulawesi, Kalimantan sampai Papua. Program CSR yang benar-benar tersebar secara nasional, dengan mempertimbangkan konteks dan kebutuhan lokal masing-masing, adalah jawaban pragmatis terhadap tantangan legitimasi sosial ini.
Di Provinsi Riau, misalnya, EPN membangun tiga lapis relasi dengan komunitas. Pertama, melalui program UMKM Academy yang memberdayakan pengrajin tenun dan kelompok ibu rumah tangga secara ekonomi. Kedua, melalui program Posyandu Home Care yang memperkuat layanan kesehatan di tingkat komunitas. Ketiga, melalui dukungan infrastruktur sosial seperti pembangunan TPQ dan perbaikan jalan lingkungan yang dilakukan unit Fuel Terminal Sei Siak di Pekanbaru.
Tiga lapis ini merespons 3 kebutuhan dasar komunitas: ekonomi, kesehatan, dan infrastruktur. Bersama-sama, mereka membangun proposisi nilai yang kuat bagi EPN sebagai bagian dari ekosistem sosial, bukan hanya sebagai operator depot BBM.
EPN membawa produk-produk ASIAP ke showcase Gerakan Wisata Bersih di Manado, beberapa waktu lalu, mereka tidak hanya memamerkan program CSR. EPN mengangkat suara komunitas Minahasa ke panggung nasional. Ini adalah bentuk advokasi yang jarang dilakukan oleh korporasi: menggunakan jaringan dan akses yang dimiliki perusahaan untuk memperkuat posisi tawar komunitas lokal.
Program Appostraps menawarkan narasi yang berbeda lagi tentang relasi korporasi-komunitas. Di Teluk Kabung Tengah, Padang, ancaman abrasi bukan sekadar masalah lingkungan, tapi juga ancaman eksistensial bagi komunitas nelayan yang kehidupannya terikat pada garis pantai.
Saat EPN datang membawa 100 ban bekas mobil tangki untuk dijadikan struktur Appostraps, mereka membawa sesuatu yang lebih dari solusi teknis. Momen itu memberi pengakuan bahwa masalah komunitas pesisir adalah masalah yang layak direspons korporasi besar.
Respons dari Camat Bungus Teluk Kabung, Harnoldi merefleksikan lebih dari sekadar terima kasih. Ia menyebutnya sebagai 'contoh kolaborasi nyata antara perusahaan dan masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan'.
Editor : Abna Hidayati






