SEBUAH ironi. Di balik setiap liter bahan bakar minyak yang tiba tepat waktu di stasiun pengisian di pelosok Nusantara, ada armada tangki yang meninggalkan jejak, baik di aspal maupun di atmosfer. PT Elnusa Petrofin (EPN), berperan sebagai ujung tombak distribusi energi Pertamina, tampaknya sangat menyadari ironi ini. Sebagai perusahaan yang bergerak di sektor energi fosil, EPN justru membangun reputasi sebagai pelopor keberlanjutan lingkungan melalui serangkaian program CSR yang saling menguatkan.
Ambisi terbesar EPN dalam urusan lingkungan tertuang dalam Program Hutan Petrofin yang diluncurkan secara resmi pada 2025 sebagai program CSR flagship. Program ini bukan sekadar kegiatan tanam pohon seremonial. Sejak pertama diinisiasi pada 2022, EPN telah menanam total 13.023 bibit pohon yang terdiri dari trembesi, mangrove, dan berbagai pohon produktif lainnya.
Estimasi reduksi emisi dari seluruh pohon yang ditanam mencapai 127,6 ton CO2 Equivalent. Angka yang memang masih kecil dibandingkan emisi operasional perusahaan distribusi BBM berskala nasional, namun bermakna sebagai langkah komitmen yang terukur.
Tahun 2025 saja, program penanaman pohon dalam kerangka Hutan Petrofin terus diperluas. Berdasarkan data yang dirilis pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2 Juni 2025, total pohon yang ditanam sejak 2023 hingga kuartal pertama 2025 mencapai 9.292 batang, dari 2.532 pohon di 2023, bertambah menjadi 5.295 di 2024, dan 1.465 pohon di Q1 2025.
Jenis pohon yang dipilih pun bukan asal-asalan: trembesi dikenal sebagai salah satu pohon dengan kemampuan menyerap karbon tertinggi, bambu berfungsi sebagai penahan erosi sekaligus penyerap CO2, sementara mangrove melindungi garis pantai sekaligus menjadi ekosistem karbon biru (blue carbon) yang sangat potensial.
Program Appostraps telah dilaksanakan di tiga lokasi berbeda. Pertama di Teluk Kabung Tengah, Kota Padang, Sumatera Barat pada Juli 2025, di mana 100 unit ban eks mobil tangki diserahkan kepada kelurahan setempat. Wilayah Teluk Kabung memang termasuk kawasan pesisir yang rentan terkena abrasi. Kondisi tersebut menjadi ancaman nyata yang menggerus tanah dan mata pencaharian warga.
Ban-ban tersebut kemudian disusun membentuk struktur yang meredam energi gelombang laut dan menjebak sedimen, memperlambat laju abrasi secara alami dan hemat biaya. Program serupa kemudian dilanjutkan di Balikpapan, dan yang ketiga dilaksanakan di Poso, Sulawesi Tengah, pada akhir Oktober 2025, yang kali ini dengan skala lebih besar: 367 unit ban bekas yang diserahkan kepada Polda Sulawesi Tengah untuk penerapan Appostraps di pesisir Desa Tokorondo.
Dari perspektif ilmu lingkungan, pendekatan Appostraps mencerminkan prinsip ekonomi sirkular: limbah dari satu siklus produk menjadi bahan baku solusi di siklus berikutnya. EPN secara eksplisit menyebutnya sebagai pendekatan cradle-to-grave, memastikan siklus hidup produk, yakni ban kendaraan, diperpanjang dengan memberikan fungsi ekologis sebelum benar-benar menjadi sampah. Ini bukan hanya tentang pembuangan limbah yang bertanggung jawab, tetapi tentang merancang ulang hubungan antara operasi bisnis dan dampak lingkungannya.
Dimensi lain dari komitmen lingkungan EPN tampak dalam partisipasi mereka dalam Gerakan Wisata Bersih (GWB) yang diselenggarakan Kementerian Pariwisata di Pantai Karang Ria, Manado, pada Agustus 2025. Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana, dengan EPN menjadi salah satu mitra korporasi yang aktif.
Editor : Abna Hidayati






