Program MBG juga menjadi strategi pemerintah dalam mendorong perputaran ekonomi lokal. Bahan pangan utama seperti beras, telur, dan sayur mayur dipasok dari Padang Panjang, Batipuh, dan X Koto. Dengan begitu, petani dan pelaku usaha kecil ikut merasakan manfaat.
Selain itu, program ini membuka peluang kerja baru. Satu dapur MBG rata-rata membutuhkan 50 tenaga kerja, mulai dari ahli gizi, penjamah makanan, hingga tenaga administrasi. Dengan target tujuh dapur di seluruh kota, setidaknya 350 orang dapat terserap.
Ketua Yayasan Maarif, Nasrullah, selaku pengelola dapur MBG Ekor Lubuk, menyebut pihaknya sudah menyiapkan tim khusus. “Mereka disebut relawan BGN, bukan karyawan. Semua siap melayani anak-anak sekolah dengan sepenuh hati,” ungkapnya.
Dalam kesempatan itu, Hendri juga meninjau langsung ke kelas-kelas melihat anak-anak menikmati hidangan. Antusiasme siswa menjadi bukti nyata bahwa program MBG sangat dibutuhkan masyarakat.
Sekretaris Daerah Sonny Budaya Putra yang turut hadir menilai, MBG mampu menjadi inovasi berkelanjutan. “Tidak hanya menekan stunting, tetapi juga mencetak generasi cerdas dan produktif,” ujarnya.
Dengan dua program besar yang berjalan hampir bersamaan, Hendri menegaskan komitmennya: membangun Padang Panjang dari lingkup paling kecil, yaitu keluarga dan anak-anak. “Investasi terbaik sebuah kota bukanlah beton atau jalan, melainkan manusia yang sehat dan berkarakter,” tuturnya.
Kehadiran Sekolah Keluarga dan MBG menjadi jawaban atas tantangan zaman. Dua program ini bukan hanya solusi jangka pendek, tetapi pondasi jangka panjang untuk memastikan generasi Padang Panjang tumbuh sehat, berpendidikan, dan siap menghadapi masa depan. (Lex)
Editor : Armed






