IKLAN KUPING KANAN PASISI 12
IKLAN POSISI 13

Fenomena Pengkaderan Parpol dan Mudahnya Masuk Partai Politik

Ilustrasi. (Sumber: Internet)
Ilustrasi. (Sumber: Internet)
PT GITO PERDANA SEJAHTERA

Bahkan, ada anak pembesar mendadak menjadi ketua umum partai. Pun gubernur, bupati dan walikota, atau para mantannya, bisa menjadi ketua parpol. Tengoklah, mantan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil direkrut menjadi Wakil Ketua Umum Golkar pada 18 Januari 2023 silam. Begitu juga dengan fenomena masuknya Rektor UNP Prof Ganefri sebagai bakal calon Gubernur Sumbar dari Partai Golkar April 2024 lalu.

Ada pula "kutu loncat" dari satu partai ke partai lain. Tak heran jika koalisi antarpartai, baik dalam mencalonkan presiden, gubernur, walikota dan bupati sangat lentur. Siapa saja boleh berkoalisi dengan siapa, dan pertimbangannya untuk kepentingan elektoral merebut kekuasaan.

Koalisi itu berbeda-beda antardaerah yang semakin meneguhkan bahwa politik kepentingan menjadi nomor satu.

Yang bersekutu dalam koalisi Pilpres bisa berbeda dalam koalisi Pemilihan Gubernur (Pilgub). Misalnya, jika Golkar menjagokan Airin Rachmi Diany sebagai Cagub Banten 2024, yang terbetik kabar disandingkan dengan Ade Sumardi, Ketua DPD PDIP. Padahal Golkar dan PDIP berseberangan dalam Pilpres.

Sementara Gerindra melirik Andra Soni dan Dimyati Natakusumah bersama PKS dan Nasdem menjadi Cagub Banten. Padahal dalam Pilpres, Gerindra dan Nasdem serta PKS berseberangan. Bahkan, tadinya Gerindra bersekutu dengan Golkar menjagokan Prabowo Subianto.

Juga, kondisi semakin mesranya Vasco Roseimy (Gerindra) dengan Mahyeldi (PKS) serta Epyardi Asda dari PAN dengan Audy Joinaldy (PPP). Kita tahu, Gerindra berseberangan dengan PKS di Pilpres bagitu juga dengan PAN dan PPP.

Advertisement
BANNER POSISI 14
Scroll kebawah untuk lihat konten
Partai bisa diandaikan kenderaan untuk mencapai tujuan. Kini naik kenderaan Anu, besok naik kenderaan lain pula. Yang penting bisa menjadi pengurus di pusat dan daerah, dan peluang menjadi anggota DPRD-DPR, KDH, bahkan anggota kabinet pun terbuka.

Di Sumatera Utara, Gerindra, PAN, Golkar, PKB dan Nasdem kompak mencalonkan Bobby Nasution dalam Pilgub 2024. Padahal dalam Pipres, Gerindra, Golkar dan PAN berseberangan dengan PKB dan NasDem.

Menghadapi Pilgub Jawa Barat dan Jakarta, lagi-lagi Golkar rada berbeda dengan Gerindra. Golkar cenderung mengusung Ridwan Kamil di Pilgub Jawa Barat, Tapi Gerindra menyukai Ridwan tampil di Pilgub Jakarta. Memang belum final. Masih dinamis.

Fenomena ini membuktikan tidak ada pola rekrutmen partai yang terseleksi dalam program kaderisasi yang berjenjang dari bawah hingga ke tingkat puncak. Tidak ujug ujug menjadi Cagub. Mestinya, dari pengkaderan inilah kemudian muncul para Calon Presiden, KDH dan anggota DPR-DPRD.

Editor : Berita Minang
Tag:
IKLAN POSISI 15
Bagikan

Berita Terkait
AMSI MEMBER
Terkini
BANNER POSOSI 5
IKLAN LAYANAN MASYARAKAT SAMPAH