Jika ingin menonton tv, sebut Rasib, dirinya bersama keluarga pergi ke kedai atau rumah tetangga dengan mengendarai sepeda motor.
"Untuk nonton Televisi (TV) saya harus membawa keluarga dengan mengunakan sepeda motor ke rumah tetangga atau kedai," sebut Rasip.
Bagi dirinya hidup seperti itu sudah dilakukan bertahun tahun lamanya. Hingga kini, keluarga mereka sudah dapat merasakan begitu pentingnya listrik untuk menerangi rumah tangga Rasib.
"Alhamdulillah, keluarga kami sudah di aliri listri sejak sebulan yang lalu. Rumah kami telah diterangi oleh tenagaa listri dari PLN," sebut Rasib.
Selain itu, atas nama keluarga mengucapkan terimaksih kepada pemerintah daaerah, dan PLN serta pihak terkait yang telah mewujudkan harapan keluarganya untuk dapat di terangi aliran listrik.
Rasib menyebutkan, penerangan dari tenaga listrik yang mengalir kerumah itu mengunakan dua tiang, tanpa mengeluarkan beban biaya. Beban biaya yang ia keluarkan adalah untuk pengisian ulang beban di kilometer yang terpasang di depan rumah.
"Kalau ingin belajar anak saya Nabila telah di sinari listrik, sebelumnya masih pakai lampu togok. Menjelang mentari sore tenggelam, biasanya keluarga kami telah menyiapi lampu togok sebagai penerangan. Hingga kini, kami cukup memencet pematik lampu yang telah dupasang oleh pihak PLN," sebut dia.
Sebelumnya, sebut Rasib, pihak pemerintah daerah setempat telah menyambangi keluarga mereka guna memberikan bantuan, arahan dan petunjuk untuk dapat di aliri listrik. Sehingga yang menjadi harapan dan angan-angan dari keluarga tersebut untuk mendapat penerangan dari PLN sudah dapat dirasakan. (SS)
Editor : Marjeni Rokcalva






