PADANG - Pada saat ini Universitas Negeri Padang telah memiliki sebanyak 91 orang guru besar dan pada akhir tahun ini diharapkan minimal memiliki 100 orang guru besar.
Demikian disampaikan oleh Ketua Senat Akademik Universitas Negeri Padang, Prof. Dr. Sufyarma Marsidin, M.Pd. dalam sambutannya pada Rapat Senat Terbuka Pengukuhan Guru Besar yang diselenggarakan pada Kamis (6/4) bertempat di Auditorium Kampus UNP Air Tawar Padang.
Pada kesempatan itu, Prof. Dr. Sufyarma Marsidin, M.Pd. menyampaikan keempat guru besar yang dikukuhkan adalah Prof. Dr. Muhamad Sazeli Rifki, S.Si., M.Pd., Guru Besar Bidang Ilmu Tes dan Pengukuran Pendidikan Olahraga, Prof. Dr. Nurul Ihsan, S.Pd., M.Pd. Guru Besar Bidang Ilmu Teknologi Pendidikan Olahraga, Prof. Dra. Yetti Zainil, M.A., Ph.D. Guru Besar Bidang Ilmu Teaching of English as a Foreign Language, dan Prof. Yohandri, M.Si., Ph.D. Guru Besar Bidang Ilmu Fisika Instrumenstasi.
Pada kesempatan itu, Prof. Dr. Muhamad Sazeli Rifki, S.Si., M.Pd., Guru Besar dari Fakultas Ilmu Keolahragaan menyampaikan peran tes dan pengukuran dalam pembangunan bidang olahraga, maka perlu melakukan tes dan proses pengukuran yang tepat dan sesuai tujuan, sehingga data yang diperoleh dengan tes yang tepat dan proses pengukuran yang tepat dan sesuai kebutuhan.
"Peran tes dan pengukuran dapat menghasilkan informasi yang tepat, yakni sebagai dasar untuk menilai tentang hasil-hasil pengukuran dan kaitannya dengan tujuan sebagai evaluasi, serta mengambil kebijakan dalam pembangunan bidang olahraga," tambah Prof. Dr. Muhamad Sazeli Rifki, S.Si., M.Pd.
"Kemampuan berbahasa penting, kemampuan berhitung penting tetapi jika kemampuan berbahasa dan kemampuan berhitung tidak ditopang dengan kebugaran yang baik, mustahil dapat dimaksimalkan," tambah Prof. Dr. Nurul Ihsan, S.Pd., M.Pd.
Pada kesempatan itu, Prof. Dra. Yetti Zainil, M.A., Ph.D. Guru Besar dari Fakultas Bahasa dan Seni menyampaikan implikasi dari temuan Baker (2011) adalah bahwa kebijakan pemerintah Indonesia untuk memulai bahasa Inggris di sekolah menengah (kelas 7) akan menyebabkan kurangnya paparan dan memperlambat pengembangan kompetensi berbicara bahasa Inggris siswa.
"Hal yang dapat kita lakukan adalah dengan memaksimalkan paparan language input di kelas bahasa Inggris yaitu dengan mendorong guru bahasa Inggris untuk memaksimalkan penggunaan bahasa target yakni bahasa Inggris dalam berkomunikasi dengan siswa mereka," tambah Prof. Dra. Yetti Zainil, M.A., Ph.D.
Prof. Dra. Yetti Zainil, M.A., Ph.D. juga menyampaikan bahwa untuk itu LPTK-LPTK yang mempersiapkan guru-guru bahasa Inggris harus berusaha semaksimal mungkin memfasiliatasi guru-guru bahasa Inggris yang akan berkiprah di kelas bahasa Inggris untuk mampu berkomunikasi efektif dengan menggunakan bahasa Inggris sehingga mereka-mereka akan termotivasi untuk menyediakan "language input' yang cukup bagi siswa-siswa mereka.
Editor :






