PAYAKUMBUH - Berdasarkan penelusuran yang dilakukan Dinas Kesehatan Kota Payakumbuh, Pemko setempat memastikan tidak di temukan kasus Stunting pada balita.
Kepala Dinas Kesehatan kota Payakumbuh Bakhrizal saat ditemui Rabu (15/1), mengatakan seorang anak bisa dikatakan stunting apabila pertumbuhan dan perkembangannya terkendala.
"Artinya, kalau hanya pertumbuhan anak yang terkendala tapi perkembangannya normal, anak itu belum dapat dikatakan stunting," ujarnya.
Diakuinya, di Payakumbuh masih ditemukan sejumlah bayi dan balita yang bertubuh pendek.
Ia mengatakan, sampai 28 November 2019 terdapat 8,3 persen atau 814 dari 9.800 bayi dan balita di Payakumbuh tidak memiliki pertumbuhan yang normal atau bertubuh lebih pendek.
Dirincikannya, angka anak yang sangat pendek di kota tersebut sebanyak 125 orang, dan anak yang pendek sebanyak 689 orang. Namun, tidak semua bayi dan balita yang pendek merupakan anak yang stunting.
"Anak pendek itu merupakan ciri yang dapat dikenali di awal. Dengan melihat tubuh pendek itu kita dapat melakukan pencegahan agar anak tidak stunting," katanya.
Oleh karena itu, delapan puskemas yang ada di Payakumbuh harus melakukan pendataan terhadap anak yang pendek. Sehingga dapat dilakukan pencegahan dengan melaksanakan intervensi.
Intervensi yang dilakukan itu, katanya, seperti mencukupi asupan gizi ibu dan anak, serta rutin melakukan pemantauan berat badan dan tinggi badan secara teratur kepada anak.
Editor :






