IKLAN KUPING KANAN PASISI 12
IKLAN POSISI 13

Mengenal Tradisi Adat Upacara Kematian di Minangkabau

Ilustrasi.
Ilustrasi.
PT GITO PERDANA SEJAHTERA

5.Empat puluh hari

Nah proses ini juga sebenarnya sudah mulai mendekati akhir upacara kematian dalam masnyarakat kota Padang. Kenapa begitu karna orang rumah juga melakukan makan bajamba atau bisa disebut makan bersama, tradisi ini juga mengundang alim ulama,anak yatim dan juga keluarga besar almarhumah. Proses penyelanggaraan ini juga tak jauh berbeda dari sebelumnya,prosesi emapat puluh hari ini arwah akan jarang mendatangi rumah duka dan tanah kuburannya akan keras dan akan disegerakan pemasangan batu nisan pada makam. Akan tetapi kalau orang rumah tidak mau melakukan upacara ini makan dikataka sah-sah saja karena masnyarakat sekarang apalagi di kota tidak mau mengambil pusing/ribet,tetapi kebanyakan masnatarakat sumabr melakukan tradisi ini.

6.Seratus hari

Tradisi kematian terahir ini adalah tardisi seratus hari nah dari sini yang kita tahu bahwa prosesi ini sudah mencapai puncak terahir. Upacara ini sudah boleh memasang batu nisa pada makan dan melakukan juga prosesi mendoa dan tak lupa pula membagikan zakat pada fakir miskin,prosesi terahir ini kebanyak di lakukan sudah magrib dan untuk pemasangan batu nisanya di lakukan di siang harinya. Dari sini sudah jelas bahwa tadisi uapacara kematian yang ada di Minangkabau ini banyak melakukan tahapan dan proses maka dari itu tidak banyak juga oarang yang sedikit menentang tradisi ini. Aalagi di jaman modrem sekarang banyak masnayarakat minang khusnya di ibu kota sudah tidak mempecayai tradisi ini,serta banyak dari hitangan 1-10 cuman 3 atau 5 orang mulai meragukan adanya prosesi tradisi upacara kematian tersebut. Maka dari itu saya membuat artiker ini untuk dapat dibaca dan di pahami oleh kalayak umum khususnya masnayarakat Minangkabau.

Advertisement
BANNER POSISI 14
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ok sekian dati penjelasan saya terhadap taradisi dan upacara adat minang yaitu pacara kematian yang ada di Kota Padang,dari yang saya jelaskan dan dapat saya simpulkan bahwa adat indak lapuak dek hujan indak lakang dek paneh yang beartikan kalau adat itu tidak akan pudar dari sisi manapun kecuali kalau fikiran manusianya yang meleceng dari ajaran adat dan agama.

Maka dari itu kita harus sesuai aturan ajaran adat dan agama supaya kita menajadui manusia yang takut akan tuhan beserta takut akan larangan yang adat atau pantangan adat yang telah di tuliskan,nah dari semua tradisi yang saya mengapa saya amabil dalam bentuk upacara kematian karena banyak dari masnyarakt sumbat khusunya di Kota Padang. Sudah mulai hilang dan memudar dari pandangan atau kecemata yang saya lihat banyak tradisi adat yang mulai larut seperti garam di air yang keruh,oke sekian dari penjelasan saya kalau ada kata atau penulisan yang kurang tepat tolong mohon di maafkan. ***

Penulis: Putri Ayuni (2110741004), Jurusan: Sastra Minangkabau, Unand (Putri/BM)

Editor : Marjeni Rokcalva
Tag:
IKLAN POSISI 15
Bagikan

Berita Terkait
AMSI MEMBER
Terkini
BANNER POSOSI 5
IKLAN LAYANAN MASYARAKAT SAMPAH