Ia mengaku selama kegiatan, anak-anak sekolah SD, SMP dan SMA se Dharmasraya di bawa sekolah lapangan. Belajar bagaimana cara mengali dan mengenal lebih dalam tentang cerita Festival Pamalayu.
"Karena sejarah yang ada di Dharmasraya, bukan sekedar cerita rakyat. Akan tetapi cerita yang benar-benar terjadi, dan ini diungkapkan oleh para sejarahwan, arkeolog dan yang berkopenten di bidang sejarah, dan kita tidak membelokkan sejarah yang ada," terangnya.
Sutan Riska juga berharap dengan semangat Festival Pamalayu menjadi kekuatan bagi pemerintah untuk membuat destinasi wisata baru di Provinsi Sumatera Barat dan Provinsi Jambi. Sehinga dapat mempertahankan budaya, peradaban dan adat yang sudah ada, agar tidak akan hilang oleh perubahan zaman yang saat ini cepat sekali berkembang.
"Kami mengucapkan terima kasih kepada Pak Dirjen, karena telah memberikan perhatian yang sangat luar biasa atas pelaksanaan Festival Pamalayu ini" jelasnya lagi.
Sukses helat kedua ini mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi dan Al Haris, sejawatnya dari Jambi sepakat dengan dampak positif kegiatan.
Sedang Al Haris mengungkit kembali hubungan yang sangat luar biasa antara Jambi dengan Sumatera Barat yakni keterikatan dengan Sungai Batanghari. Oleh karena itu menurutnya mengkaji kembali peradaban Batanghari merupakan kegiatan positif untuk mempererat tali persaudaraan masyarakat di dua kawasan.
"Kita berharap dengan adanya kegiatan ini, maka kita bisa memberikan sebuah narasi kepada seluruh generasi muda yang ada untuk lebih dalam mengenal peradaban sejarah Sungai Batanghari. Bukan hanya sekedar mengetahui bahwa di Dharmasraya ataupun di Muaro Jambi ada sebuah candi. Akan tetapi, mereka lebih dalam mengetahui sebuah sejarah tentang peradabannya," kata Al Haris.
Dalam kesempatan itu, Dirjen Kebudayaan, Hilmar Farid menyerahkan miniatur perahu kepada Sutan Riska sebagai tanda mata atas suksesnya helat nasional di bumi Dharmasraya. (Eko)
Editor :






