Penghulu (pemangku gelar adat) suku Caniago Tarusan, Andi Datuak Rajo Magek mengatakan, M Zen bersaudara sebanyak delapan orang. Dari kedelapan orang tersebut, lebih banyak anak perempuan daripada laki-laki.
Ada keunikan dalam pemberian nama M Zen dan saudaranya. Nama anak perempuan didahului dengan Siti dan laki-laki didahului dengan Muhammad (ditulis Moehammad, terkadang juga Moechammad).
Andi saat ditanyai tentang kedelapan nama saudara M Zen, ia hanya ingat padaa 6 nama. Yaitu: Muhammad Syarif, Muhammad Moechtar, Siti Kamsiah dan Siti Hafisah, Siti Sjafiyah dan Muhammad Khair.
Moechammad Zen secara adat Minangkabau "di-gadang-kan" (didahulukan selangkah, ditinggikan seranting) dan "di-basa-kan" (dibesarkan) menjadi datuak (dt) penghulu.
Ia diangkat dengan sakato (kesepakatan) kaumnya suku Caniago dengan gelar pusaka sukunya yang asal usulnya dari Guguk Solok itu, yakni Datuk Bagindo Tan Basa.
Akan tetapi, kata kata Andi Dt Rajo Magek, gelar induk pusako Caniago Tarusan Datuk Bagindo Tan Basa yang berasal usul dari Guguk Solok itu sudah terlipat lama.
Moechammad Zen atau juga disebut M Zein adalah orang Pesisir Selatan, Sumatera Barat pertama yang berprofesi sebagai dokter. Selain sebagai dokter, ia juga panghulu di suku Caniago Tarusan dengan gelar Datuak Bagindo Tan Basa.
Ia menempuh pendidikan kedokteran di School tot Opleiding van Inlandsche Artsen, atau yang juga dikenal dengan singkatannya STOVIA. STOVIA adalah sekolah untuk pendidikan dokter pribumi di Batavia pada zaman kolonial Hindia Belanda. Saat ini sekolah ini telah menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Dikutip dari Dr Yulizal Yunus dalam tulisannya memaparkan, meski ia dokter tamatan STOVIA yang bergengsi, ia rela mengabdi mengawal kesehatan masyarakat desa. Hal itu sudah ia lakukan sejak dari Bangko, Sawahlunto sampai di Painan, Pesisir Selatan.
Editor : Berita Minang






