SUMATERA BARAT-Sudah hari keempat harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) belum juga berhasil dievakuasi, kekhawatiran harimau sumatera bergerak ke arah permukiman mulai muncul.
Sejak beredarnya video harimau sumatera mengikuti kendaraan di perkebunan sawit, Balai Konservasi Sumbar Daya Alam (BKSDA) Sumbar memutuskan memasang dua boxtrap (kandang jebak) dan tiga kamera pengintai untuk memantau harimau.
Evakuasi dilakukan untuk menghindari konflik satwa dengan manusia, opsi penggiringan dan pengusiran harimau menuju Kawasan hutan hampir mustahil dilakukan. Jarak hutan terdekat 9 km dan melewati beberapa permukiman penduduk, risiko konflik dengan manusia jadi lebih tinggi, ucap Ade Putra, BKSDA Sumbar.
Warga juga melaporkan lima ternak hilang dan terlihat tiga ekor individu harimau sumatera. Namun, dari hasil kamera pengintai yang dipasang empat hari ini, hanya terlihat satu individu harimau sumatera yang diidentifikasi dari belangnya, sambung Ade.
Perilaku harimau sumatera mengikuti kendaraan bisa disebut tidak normal, dugaan awal harimau ini terpisah dari rombongan.
Akhirnya, pada hari kelima Senin pagi (19/7/2021) harimau sumatera masuk kandang jebak. Harimau sumatera ini masih remaja terlihat dari taringnya dan berkelamin betina. Harimau dibawa untuk menjalani serangkaian pemeriksaan kesehatan ke Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan (TMSBK) Bukittinggi.
Tidak mudah mengambil kesimpulan kenapa harimau sumatera ini berada di area perkebunan sawit.
Bagi perusahaan sawit, terjadinya konflik dengan satwa dilindungi dan terancam punah seperti harimau sumatera di area perkebunan sawit bisa mempertaruhkan sertifikat International Sustainable Palm Oil (ISPO) yang mereka miliki.
Harimau sumatera adalah subspesies terakhir harimau Indonesia. Dua saudara harimau sumatera; harimau jawa (panthera tigris sondaica) dan harimau bali (panthera tigris balica) sudah duluan punah.
Editor : Marjeni Rokcalva






