IKLAN KUPING KANAN PASISI 12
IKLAN POSISI 13

Membaca Minangkabau dalam Visual Rupa Estetik

Muharyadi, Kurator dan Penggiat Seni Rupa tinggal di Padang. Dok.
Muharyadi, Kurator dan Penggiat Seni Rupa tinggal di Padang. Dok.
PT GITO PERDANA SEJAHTERA

PULUHAN karya seni rupa dari berbagai jenis, bahan dan alat serta ukuran ditampilkan dalam pameran besar seni rupa Sumatera Barat "Minangkabau Kini" yang digelar di Agam Jua Art Cuture Cafe, Jalan Inspeksi Batang Agam, Kelurahan Padang Tongah, Balai Nan Duo Kecamatan Payakumbuah, kota Payakumbuah, Sumbar, Senin 8 sd 13 November 2021 lalu.

Terdapat karya seni lukis, seni patung, kerambit dan fotografi serta seni kriya berupa seni batik seperti ; batik tulis, eko print dan batik cetak dengan muatan budaya lokal.

Selain tuan rumah Sumatera Barat, terdapat beberapa nama mewakili Daerah Istimewa Yogyakarta diantaranya sang maestro kaligrafi Islam, Syaiful Adnan, Yusman, Yulhendri, Ali Umar, Bazrusal Albara, Iin Risdawati, Melta Desyka dan Alif Lamra. Dari Bandung turut serta Ricon Ibdar, Suciati dan Kimat. Propinsi Riau diwakili Herisman Is dan Bengkulu diwakili Yunizah.

Dua peserta kehormatan pameran ini terdiri C. Israr (1922 - 2006) salah seorang tokoh pendiri kota Payakumbuah dan alumni ASRI Yogyajarta (1955) dan Amir Syarif (82 th) pelukis senior seangkatan Amri Yahya (alm). Selebihnya ada nama Ardim, Body Dharma, Firman Ismail, Harisman, Hendra Buana, Rizal MS, Yusman, Hendra Sardi, Ade Irawan, Ismet Sajo, Hidayat Di Kincie, Israr Dinata, Yurnaldi, Zardi Syahrir, Zaref Lina dan lainnya.

Hal yang menarik dalam pameran ini, rujukan kata minangkabau kini menjadi "bahasa utama" kerja seni rupa yang dapat disidik dalam berbagai kacamata dan dimensi. Misalnya jika menyidik sejumlah seni lukis karya Herisman Is (Riau), Syaiful Adnan (Yogyakarta), Hendra Buana, Firman Ismail, Israr Dinata, Yurnaldi, Zul Mannix, Body Dharma, Zardi Syahrir, Zaref Lina, Erizal (Sumbar), dan beberapa nama lain.

Advertisement
BANNER POSISI 14
Scroll kebawah untuk lihat konten
Lukisan Syaiful Adnan berjudul "Syaiful Adnan, Salam Perubahan Untuk Ranah Minang", 150x150 cm, Akrilik, 2021 dapat dipahami melalui rangkaian ayat-ayat suci Al-Qur'an yang memuat tentang segala kemahabesaran, kemahaagungan, kemahaindahan dalam bahasa semiotik sebagai simbol, tanda dan penanda ditengah-tengah masyarakatnya didasari pemahaman kuat terhadap aspek-aspek elementer berupa garis, warna, bidang, ruang, komposisi dan lainnya dengan mengolah ayat-ayat suci Al-Qur'an menjadi tampilan baru karya seni lukis kaligrafi Islam.

Syaiful Adnan mengetengahkan ayat-ayat suci Al-Qur'an sebagai tema sentral sebagai bentuk refresentasi atas tauhidiah (keyakinan tentang keesaan Allah) dan zikir sebagai konsekwensi dari tauhid. Karya Syaiful juga merupakan ekspresi zikir visual, membaca dan mewujudkan terus menerus tentang ayat-ayat Allah non fisik terlihat jelas back up penguasaan isi Al-Qur'an dan makna-makna yang terkandung di dalamnya dengan apik dan menawan didasari kesadaran kulturalnya dengan menempatkan kaligrafi sebagai pilihan guna merefresentasikan memori pribadi dan memori kolektif sebagai pilihan kerja lukis terhadap aspek-aspek elementer berupa garis, warna, bidang, ruang, komposisi dan lainnya dengan mengolah ayat-ayat suci Al-Qur'an menjadi tampilan baru karya seni lukis.

Lukisan kaligrafi Islam laainnya karya Harisman "Nimat-Syukur", 110 x 130 cm, Akrilik, 2021, Hendra Buana "Bersyukur Dalam Nikmat Ilahi", 125 x 125 cm, akrilik, 2021 dan Amir Syarif "Zikir Utama" akrilik - 100 x 100 cm bermuatan ukhuwah Islamiah dengan kandungan nilai-nilai religius di dalamnya yang tak pernah berhenti mengalir dalam penjelajahan kreativitas dengan banyak idiom-idiom baru bermunculan setiap ruang dan waktu.

Sementara Ardim melalui simbolisme melalui karyanya berjudul Tiga Penari, 120 x 90 cm, akrilik, 2021 ia terus menggali berbagai eksplorasi elemen estetik, tanpa kehilangan sosok obyek, tetapi kadang juga menstimulasi kubis simbolik.

Lukisan Ardim memuat beberapa sudut pandang figur tiga penari Minang dalam satu gambar yang sama menghasilkan lukisan yang terfragmentasi dan terdeformasi melalui penyederhanaan objek secara bersamaan hingga menghasilkan kejanggalan yang artistik. Walau tidak memiliki perspektif yang konsisten, beberapa objek tampak ganjil. Namun itu adalah salah satu hal yang membuatnya tampak lebih menarik dibandingkan karya klasik masa lalu.

Editor : Berita Minang
Tag:
IKLAN POSISI 15
Bagikan

Berita Terkait
AMSI MEMBER
Terkini
BANNER POSOSI 5
IKLAN LAYANAN MASYARAKAT SAMPAH