IKLAN KUPING KANAN PASISI 12
IKLAN POSISI 13

Banyak Peminat, AJI Padang Gelar Nobar dan Diskusi Film A Thousand Cuts

Suasana Nobar dan Diskusi Film A Thousand Cuts yang digelar AJI Padang.
Suasana Nobar dan Diskusi Film A Thousand Cuts yang digelar AJI Padang.
PT GITO PERDANA SEJAHTERA

PADANG - Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Padang menggelar nonton bareng (nobar) dan diskusi film A Thousand Cuts. Nobar dan diskusi ini bertema 'Ancaman Serangan Digital dan Pembatasan Bersuara serta Penggelembungan Kekuasan Eksekutif Terhadap Demokrasi Indonesia'. Kegiatan tersebut digelar di Segeh Koffiehuis, Kota Padang, Kamis (4/11) malam WIB. Nobar ini diikuti puluhan peserta yang terdiri dari masyarakat sipil, jurnalis, aktivis, akademisi hingga pers mahasiswa.

Ketua AJI Padang, Aidil Ichlas, mengatakan nobar Film a Thousand Cuts ini digelar di 10 AJI Kota yang tersebar di Indonesia. Nobar ini menurut Aidil dalam rangka memperingati Hari Internasional Memperingati Impunitas Atas Kejahatan Terhadap Jurnalis yang diperingati setiap tanggal 2 November.

"Film ini kita harapkan dapat menjaga semangat para jurnalis dan aktivis dalam membela HAM khususnya. Sekaligus mengingatkan adanya ancaman serupa di negara kita, seperti yang terjadi di Filipina," kata Aidil. Aidil menambahkan, nobar dan diskusi ini juga sebagai bentuk dukungan terhadap Maria Ressa.

A Thousand Cuts merupakan film dokumenter garapan Sineas keturunan Filipina-Amerika Ramona Diaz. Film ini mengangkat sosok Pemimpin Redaksi Portal Berita Online Rappler, Maria Ressa. Film tersebut mengeksplorasi konflik antara pers dan pemerintah Filipina di bawah Presiden Rodrigo Duterte. Di mana pada akhirnya Maria Ressa pada akhirnya harus mendekam di penjara selama 6 tahun karena tuduhan penipuan dan pencemaran nama baik.

Direktur Pusat Studi Konstitusi (PUSaKO) Universitas Andalas, Feri Amsari, yang menjadi pemantik diskusi melihat adanya persamaan antara Filipina dan Indonesia. Yaitu persamaan pihak yang sedang berkuasa ingin memperpanjang kekuasaan atau masa jabatan. Dalam film a Thousand Cuts, ini, Presiden Rodrigo Duterte tergoda untuk memperpanjang masa jabatannya lebih dari 7 tahun. Diketahui di Filipina, seorang presiden hanya boleh menjabat dalam masa satu periode selama 6 tahun.

Advertisement
BANNER POSISI 14
Scroll kebawah untuk lihat konten
Saat itulah arogansi pemerintahan mulai terasa dan cenderung anti-kritik. Kemudian Duterte mencoba membungkam media yang kritis kepada pemerintahannya. Seperti membungkam media yang dipimpin Maria Ressa, Rappler.

"Ketika jurnalis sudah dibungkam, apalagi ditangkap. Maka, tidak akan ada lagi apa-apa, karena tidak ada lagi yang memberitakan," ujar Feri.

Direktur LBH Padang, Indira Suryani, yang juga hadir sebagai pemantik diskusi mengatakan, film A Thousand Cuts merupakan film yang memberikan motivasi untuk memperjuangkan hal-hal yang benar.

Menurut Indira, ketika seseorang memilih jati dirinya menjadi pembela HAM, harus siap dengan segala ancaman, teror dan hal lainnya. Tapi, pembela HAM, menurut dia akan berbahagia dengan apa yang mereka perjuangkan.

"Ketika Maria Ressa ditahan dan didiskriminasi, mereka tetap memiliki kekuatan yang luar biasa. Yang kita lihat sepanjang film ini, Maria Ressa selalu tersenyum," kata Indira.

Editor : Berita Minang
Tag:
IKLAN POSISI 15
Bagikan

Berita Terkait
AMSI MEMBER
Terkini
BANNER POSOSI 5
IKLAN LAYANAN MASYARAKAT SAMPAH