IKLAN KUPING KANAN PASISI 12
IKLAN POSISI 13

Nasionalisme Ulama, Ringkasan Sejarah Sebagai Refleksi Reuni Mujahid 212

Suasana reuni 212 di kawasan Monas Jakarta. Ist
Suasana reuni 212 di kawasan Monas Jakarta. Ist
PT GITO PERDANA SEJAHTERA

Sedangkan di Sumatera Barat, berkat jaringan ulama ini, memunculkan gagasan untuk membetuk Sumatera Thawalib, yang arti dalam bahasa arab adalah "pelajar-pelajar sumatera" pada 1919. Sumatera Thawalib ini hasil musyawarah pemuda-pemuda muslim Minangkabau pada 15 Januari 1919 disebuah surau milik Syekh Muhammad Djamil Jambek di Bukittinggi. Tidak hanya berhenti disitu, Sumatera Thawalib mewarisi struktural dari lahirnya Persatuan Tarbiyah Islamiyah, yang kemudian melahirkan Persatuan Muslim Indonesia pada 1930.Merupakan partai politik pertama dengan asas Nasionalisme-Islam, namun dibubarkan pemerintah Hindia Belanda pada 1937. Pada masa-masa tersebut banyak bermunculan perguruan islam modern di Sumatera Barat, seperti Adabiyah, Diniyah Putri dan lainnya.

Sedikit melompat, sebagian jalan-jalan yang kita tempuh sekarang ini di Sumatera Barat, adalah bagian dari jalan perintis yang dilalui para kurir yang di utus ulama-ulama berkomunikasi.Yang terbaru adalah jalan yang menghubungkan antara Rao Mapat Tunggul (Pasaman) dengan Rokan Hulu (Riau). Jalan alternative tersebut merupakan jalan perintis yang menkoneksikan antara Tuanku Rao dengan Tuanku Tambusai di Rokan Hulu.Jalan itu juga yang menghubugkan komunikasi Tuanku Imam Bonjol dengan Tuanku Tambusai. Dari Tuanku Imam Bonjol , pertukaran informasi diteruskan ke Tuanku Nan Renceh di Kamang melalui Palupuh,dan diteruskan selanjutkan kepada ulama-ulama lainya. Ini adalah bukti koniktivitas antara para ulama, hingga bertitik pada persatuan ulama di Bukit Marapalam (Tanah Datar),yang meletakan pondasi filososi hubungan antara adat dan agama, "Adat Basandi Syarak,Syarak Basadi Kitabullah".

Jaringan Jurnalistik Ulama

Peranan Ulam juga tidak hanya sebatas gerakan kebangsaan dan perlawanan terhadap kolonial saja.Sebelum masa kotemporer dari lahirnya tokoh-tokoh jurnalistik di Indonesia, jaringan ulama sudah lebih dahulu bersentuhan dengan dunia jurnalistik. Namun, dalam sejarah jurnalistik di Indonesia, sangat sedikit membahas kontribusi jaringan ulama ini terhadap lingkup sejarah jurnalistik di Indonesia.

Memang, pada masa kolonial semua dunia jurnalistik dikuasai oleh pemerintah hindia belanda, karena teknologi eropa yang dipegangnya.Sebelum masuk ke dunia jurnalisitik, ulama-ulama sudah terlebih dahulu menjadi "kuli tinta", lewat berbagi buku dan karya sastra. Sentuhanjurnalistik non-eropa pada ulama adalah Al-Manar (1898), yang terbit di Kairo (Mesir). Semua ulama-ulama besar di Nusantara kala itu menjadi pelanggan utama majalah ini.Al-Manar dipimpin oleh Rasyid Ridha yang merupakan pelopor dari pembaharuan Islam.Dan diikuti dengan Al-Iman yang terbit di Singapura pada 1906.Kita sebut saja KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Ashari, Abdul Karim Amarullah, HOS. Cokro Aminoto, Agus Salim dan lainnya, adalah pelanggan sekaligus pembaca kedua majalah tersebut.

Majalah Al-Manar dan Al-Iman menginspirasi lahirnya majalah Al-Munir di Padang pada tahun 1911, oleh perkumpulan Syarikat Ilmu,seperti Abdul Karim Amarullah (Ayah Hamka), Sutan Muhammad Salim (Ayah Agus Salim), yang walapun dengan tulisan arab melayu, namun jaringan ulama ini dapat berbagi informasi dengan ulama lain. Setelah kehadiranAl-Munir, segera muncul majalah-majalah dengan semangat yang sama di kawasan Minangkabau, sepertiAl-Akhbar yang berbasis Padang. JaringanSumatra Thawalibdi berbagai daerah menerbitkan majalah yang diedarkan terbatas, sepertiAl-BayandiParabek,Al-BasyirdiSungayang,Al-IttiqandiManinjau, Pada tahun 1916, Ketua Sarekat Islam HOS.Tjokroaminoto untuk mendirikan majalah Al-IslamdiSurabaya .Majalah ini menandai dimulainya penerimaan kaum Muslim Nusantara terhadap penggunaan huruf Latin, selain tetap menggunakan huruf Jawi.. Nahdhatul Ulama juga mengeluarkan Majalah Swara Nahdathul Ulama pada tahun 1928.Dan Kemudian berubah mejadi Berita Nahdatul Ulama pada 1928.

Advertisement
BANNER POSISI 14
Scroll kebawah untuk lihat konten
Tahap demi tahap dampak jaringan ulama ini, memberikan peran positif terhadap perkembangan dunia jurnalistik di Indonesia, tentunya dengan tujuan sarana informasi dan sarana perjuangan melawan kolonial. Namun, kontribusi ulama terhadap sejarah jurnalisitik di Indonesia seolah-olah "dipudarkan", dan sejarah Indonesia lebih mengedepankan aspek kaum nasionalis seperti hadirnya majalah Medan Prijaji tahun 1907 sebagai momentum awal lahirnya jurnalistik pribumi di Indonesia.

Nasionalisme, Ulama dan Merdeka

Nah, jika kita melihat lebih ke dalam , begitu banyak kaitan antara jaringan ulama dengan munculnya gagasan "persatuan dan kebangsaan" hingga terwujud dalam Sumpah Pemuda (1928). Mulai 1820-an hingga 1945 tak terlepas dari peran penting hubungan komunikasi antara para ulama di seluruh nusantara.Jaringan ulama ini dapat juga disebut "Jaringan Nasionalisme Ulama", mereka sealing berbagi cerita, berbagi ilmu, hingga terakomodir melalui tulisan lewat karya-karya jurnalistik. Sehingga mendorong generasi penerus ulama melanjutkan serta menularkan apa yang telah dirintis sebelumnya.

Jadi, Reuni 212 bersama para Ulama dan para Mujahid adalah bagian dari jaringan ulama saat ini, ulama-ulama turun gunung dalam persoalan negara kita.Pemerintah harusnya melihat ini sebagai bentuk "kekhawatiran" terhadap kondisi bangsa kita.Kepastian ekonomi, kepastian hukum, kepastian kedaulatan, adalah kekhawatiran yang "tidak pasti" yang disuguhkan pemerintah sekarang ini.Kalu kita bicara "NKRI Harga Mati", kata-kata ini sudah ada sejak 1926-an oleh seluruh Ulama dan para mujahid pada saat itu.

Editor : Berita Minang
Tag:
IKLAN POSISI 15
Bagikan

Berita Terkait
AMSI MEMBER
Terkini
BANNER POSOSI 5
IKLAN LAYANAN MASYARAKAT SAMPAH