Aksi demonstrasi itu berakhir dengan diskusi dan foto bersama dengan wajah-wajah yang tak lagi menunjukkan ketidakpuasan.
Di kalangan wartawan Nasrul Abit juga terkenal sangat dekat. Dalam waktu senggang nya ia meminta ajudannya untuk mengundang wartawan ke ruangannya sekadar untuk berdiskusi tentang perkembangan daerah.
Sesekali diskusi itu berakhir di pinggir pantai di kedai makan sederhana yang menawarkan menu ikan pukek. Ya, Nasrul Abit adalah pecandu "kuliner laut,". Mungkin karena ia dibesarkan di pesisir pantai sehingga laut telah menjadi satu dengan jiwanya.
Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi mengenang sosok Nasrul Abit sebagai seorang kakak yang tidak pelit untuk berbagi ilmu dalam diskusi.
Perannya untuk Sumatera Barat tidak akan terlupakan sepanjang hayat masih dikandung badan.
"Insya Allah kebaikan kebaikan beliau akan diganjar dengan surga Allah," katanya saat melepas jenazah di Air Haji, Pesisir Selatan, Sabtu.
Adik almarhum Mukhlis Yusuf Abit memintakan maaf kepada seluruh masyarakat jika saudaranya pernah berbuat salah sengaja maupun tidak disengaja. Ia meminta doa agar almarhum dilapangkan kuburnya dan dimuliakan tempat di sisi-Nya.
Kini Nasrul Abit pergi. Iring-iringan jenazah disambut tangis dan doa di sepanjang jalan di Pesisir Selatan. Masyarakat tanpa dikomando berjejer di pinggir jalan, melepasnya ke tempat peristirahatan terakhir.
Selamat jalan Nasrul Abit, jasamu, kenangan denganmu takkan terlupakan bagi keluarga bagi masyarakat Pesisir Selatan dan bagi masyarakat Sumatera Barat.(BIRO ADPIM SETDAPROV SUMBAR)
Editor : Berita Minang






