"Karena kami mendapat informasi sebelumnya satwa ini sudah dipelihara masyarakat dalam rentang waktu cukup lama. Kita observasi dulu perilakunya, apakah satwanya masih mempunyai sifat-sifat liar dan masih bisa survive di alam. Kalau memang masih dimungkinkan untuk dilepasliarkan, akan kita lepaskan secepatnya," ujarnya.
Sebagai informasi, Binturong adalah jenis satwa mamalia dari keluarga Musang yang memiliki ekor panjang dan tubuh yang besar. Panjang tubuhnya mencapai 60 cm hingga 95 cm, serta panjang ekor mencapai 50 cm hingga 90 cm. Berat Binturong antara 6 kg sampai 14 kg, bahkan hingga mencapai 20 kg. Bulu atau rambut Binturong panjang dan kasar dengan warna hitam kecoklatan disertai taburan uban keputih-putihan atau kemerahan merupakan salah satu pembeda dengan Musang.
Satwa ini adalah hewan nokturnal yang aktif pada malam hari. Binturong termasuk hewan arboreal dan terestrial, sebab ketika ia sering berada di atas pohon, namun juga turun ke lantai hutan. Binturong mempunyai beberapa ciri khas, seperti ekor yang dapat berfungsi sebagai kaki kelima untuk berpegangan pada dahan-dahan pohon, serta memiliki organ berupa penis palsu (pseudo-penis) pada Binturong betina.







