IKLAN KUPING KANAN PASISI 12
IKLAN POSISI 13

Memasak Samba Surau, Tradisi Kurban di Masjid Aufu Bil Uqud Padang Panjang

Masyarakat setempat saat memasak Samba Surau di Masjid Aufu Bil Uqud, Kelurahan Koto Katik, Kecamatan Padang Panjang Timur (PPT), Rabu (21/7).
Masyarakat setempat saat memasak Samba Surau di Masjid Aufu Bil Uqud, Kelurahan Koto Katik, Kecamatan Padang Panjang Timur (PPT), Rabu (21/7).
PT GITO PERDANA SEJAHTERA

PADANG PANJANG - Penyembelihan hewan kurban yang terdiri dari 16 ekor sapi, dan 3 ekor kambing diselesaikan jelang adzan Dzuhur oleh panita di Masjid Aufu Bil Uqud, Kelurahan Koto Katik, Kecamatan Padang Panjang Timur (PPT), Rabu (21/7).

Selepas Shalat Dzuhur, ribuan bungkus daging ini dibagikan kepada warga sekitar, seiring dengan dimulainya memasak Gulai Sinaruih mirip Kalio Daging namun tidak menggunakan santan. Masyarakat setempat kerap menyebutnya dengan Samba Surau.

Gulai Sinaruih dari bahan daging kurban ini, dimasak dengan porsi yang lumayan besar. Menggunakan 12 kuali besar yang menampung kurang lebih 15 hingga 20 kg daging per kualinya.

Prosesnya sangat tradisional sekali, karena dimasak menggunakan kayu. Uniknya dilakoni oleh kaum laki-laki. Sementara kaum ibu hanya mempersiapkan bumbu-bumbu saja, serta membungkuskan nasi putih untuk dibawa ke masjid. Biasanya mereka melebihkan bungkusan untuk yang bergoro di masjid.

Siang itu menjelang Ashar, matahari hari cukup terik, namun panitia dari para pemuda dan bapak-bapak tampak tak menghiraukannya. Mereka bersemangat, bergantian mengaduk masakan menggunakan sebilah bambu panjang yang cukup tebal.

Advertisement
BANNER POSISI 14
Scroll kebawah untuk lihat konten
Terdengar kelakar di antara mereka. Asap yang mengepul ke udara membuat mata sedikit perih, tapi hal itu sepertinya tidak jadi masalah.

Sesudah Ashar, Gulai Sinaruih menghembuskan aroma gurih, pertanda masakan khas setiap Hari Raya Kurban di Koto Katik ini sudah matang. Potongan rebung kemudian dimasukkan ke dalam adonan. Lalu, setelah beberapa kali diaduk, bara api mulai diperkecil dan ditutupi daun pisang supaya bumbu meresap.

Selang beberapa saat, barulah Gulai Sinaruih dibagikan kepada warga yang datang membawa nasi putih. Ada yang menyantapnya di masjid, ada juga yang membawa pulang. Suasana bahagia masyarakat terasa saat itu.

Ketua Pengurus Masjid, Benni Chandra mengatakan, memasak lauk Gulai Sinaruih, dari daging kurban yang dinamai Samba Surau ini sudah menjadi tradisi sejak Masjid Aufu bil Uqud didirikan tahun 1927 silam.

Diinisiasi para pendirinya yaitu Syeikh Jamil Jaho, Ustadz Muhammad Idris, dan Ustadz Nurdin Labai Majolelo.

Editor : Berita Minang
Tag:
IKLAN POSISI 15
Bagikan

Berita Terkait
AMSI MEMBER
Terkini
BANNER POSOSI 5
IKLAN LAYANAN MASYARAKAT SAMPAH