AGAM - Danau Maninjau merupakan ikon dari Sumatera Barat pada 1980 sampai 1990, sehingga menjadi tujuan wisatawan. Namun dengan berkembangnya keramba jaring apung, menjadi beban pencemaran air danau akibat sisa pakan ikan.
Keramba ikan di danau Maninjau yang ditargetkan sebanyak 6 ribu. Saat ini jumlahnya sudah 17 ribu lebih keramba apung dampak dari keramba ini tentu merusak lingkungan yang ada di kawasan dasar danau.
Hal ini disampaikan Menteri Kelautan Dan Perikanan (KKP) Republik Indonesia Sakti Wahyu Trenggono meninjau Lokasi danau Maninjau Linggai, Kabupaten Agam, Kamis (3/5/2021).
Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono sangat prihatin dengan masyarakat Maninjau saat ini dimana sangat menggantungkan hidupnya dengan keramba apung baik para pekerja maupun orang yang mengelola kelola itu sendiri.
Menurutnya dari kementerian perikanan dan kelautan sangat memikirkan bagaimana rakyat yang bekerja dan pengelola keramba itu kemudian dia bisa pindah dari keramba sehingga bisa beralih menjadi pembudidaya ikan di darat.
Jadi solusi yang tepat dikatakan Menteri KKP adalah bukan mengurangi, tetapi dibersihkan ini jadi suatu ekologi agar menjadi lebih bagus, tentu harus dilakukan sedimentasi penyedotan lumpur sisa pakan yang mengendap disasar danau.
"Agar menjadi lebih bagus, agar bagaimana masyarakat yang sekarang ini berbudidaya disini digeser dipindahkan di darat. Kalau hal demikian tidak dilakukan pakan ikan yang mengendap di dasar danau dapat memicu menjadi kerusakan lingkungan," tuturnya.
Tugas saya untuk menetapkan rakyat agar kesejahteraan masyarakat kita geser ke darat yang seharusnya tetap membudidayakan ikan untuk meningkatkan ekonominya," lanjut Menteri KKP.
Sementara itu, Wakil Gubernur Sumbar Audy Joinaldy juga menyebutkan saat ini sudah tiga menteri yang sudah mengunjungi Danau Maninjau saat ini Menteri Kelautan dan Perikanan, Menteri Bappenas, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, dan rombongan dari tim Kemenko Kemaritiman dan investasi .
Editor : Berita Minang






