AGAM - Sepasang suami istri Bahtiar Kamal (54) dan Eli Warni (52) sibuk memanen cabai merah. Mereka khusyuk memilih buah cabai yang sudah berwarna merah, satu-persatu buah tanaman yang mempunyai nama latin Capsicum annum ini dipetik dengan hati-hati.
Tanpa disadarinya, Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah sudah ada dibelakangnya dan ikut panen bersama mereka. "Assalamualakum .. uda jo uni sadang panen lado yo. Buliah ambo ikut bantu panen lado ko," tanya Mahyeldi.
Setelah diperbolehkan, Mahyeldi dengan penuh semangat, tangannya satu persatu cabe berwarna merah sudah penuh di genggaman tangannya. Cabe merah itu kemudian dimasukkan ke ember berukuran sedang berwarna hitam. Sementara buruh panen lain ada yang menggunakan kain yang dililitkan di pinggang untuk menampung cabai yang digenggaman tangan. Begitu penuh selanjutnya dioper ke karung.
"Alah banyak lado wak, sanang rasonyo bisa bantu uda di siko. Lai buliah ambo acok acok kamari minta lado da," kata gubernur sambil bercanda.
Selanjutnya Gubernur Mahyeldi mengatakan, bahwa desa ini menunjukkan bahwa daerah sangat berpotensi untuk dijadikan kawasan agribisnis cabai merah.
"Pagi ini, kami sengaja berkunjung untuk melakukan panen cabe bersama warga dan Alhamdulillah, hari ini saya bisa bertemu langsung dengan ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Bunga," ucapnya.
Gubernur Sumbar menyebutkan, panen cabe ini sudah 24 kali panen, sekarang harganya Rp 20 ribu perkilo. Untuk harga tersebut, petani belum bisa dikatakan untung. Minimal harganya Cabe merah sekitar Rp 25 ribu sampai Rp 30 ribu per kilo itu baru bisa dikatakan untung.
"Insya Allah, ke depannya pemerintah dengan kebijakan kebijakannya bisa menstabilkan harga cabe ini, sehingga semangat para petani cabe bisa bergairah kembali untuk menanam cabe kembali," ungkapnya.
Mahyeldi berharap, para petani tetap optimis, dituntut membuat inovasi dan terobosan, Kalau petani terobosannya ya seperti ini, butuh keuletan, semangat, serius dan kesungguhan dan ketelatenan.
Editor : Berita Minang






