IKLAN KUPING KANAN PASISI 12
IKLAN POSISI 13

Mau Tahu? Inilah Permainan Anak Nagari Minangkabau

Foto Rahma Wulandari
Ilustrasi Mau Tahu? Inilah Permainan Anak Nagari Minangkabau
PT GITO PERDANA SEJAHTERA

Ketika tekong ditendang, penjaga harus mengembalikannya ke tempat permainan sambil berusaha menemukan pemain yang bersembunyi. Pemain yang tertangkap dapat menghadapi aturan tertentu sesuai kesepakatan kelompok. Pada beberapa bentuk permainan, teman yang belum tertangkap memiliki kesempatan menyelamatkan pemain lain dengan menendang tekong.

Permainan sipak tekong membutuhkan kecepatan berlari sekaligus strategi. Pemain harus menentukan tempat persembunyian, memperhatikan gerak penjaga, dan memilih waktu yang tepat untuk kembali ke tekong. Karena melibatkan banyak pemain, permainan ini juga melatih komunikasi dan kerja sama.

Permainan lainnya adalah badia batuang, yang dikenal sebagai permainan meriam bambu. Bambu digunakan sebagai alat utama untuk menghasilkan bunyi letupan. Permainan ini memiliki kaitan dengan kebiasaan anak-anak memanfaatkan bahan alam untuk membuat alat hiburan sendiri. Namun, penggunaan bambu dan sumber pemicu letupan memiliki risiko, sehingga permainan tersebut tidak boleh dilakukan tanpa pengawasan orang dewasa dan pengamanan yang memadai.

Gasiang dan Perubahan Kebiasaan Bermain

Gasiang atau gasing juga dikenal dalam permainan rakyat Minangkabau. Alat permainan ini umumnya dibuat dari kayu dan diputar menggunakan tali yang dililitkan pada badannya. Pemain harus mengatur lilitan serta tarikan tali agar gasiang dapat berputar dengan baik di atas permukaan tanah.

Ketika dimainkan bersama, gasiang dapat menjadi ajang menguji ketahanan putaran dan keterampilan melontarkan alat. Pemain belajar dari percobaan yang berulang. Jika gasiang tidak berputar dengan baik, mereka dapat memperbaiki cara melilitkan tali atau mengatur arah lontaran.

Advertisement
BANNER POSISI 14
Scroll kebawah untuk lihat konten
Di sejumlah lingkungan, permainan tradisional juga mencakup kelereng, kajai atau permainan menggunakan karet, mancik-mancik, dan patok lele. Patok lele menggunakan dua potong kayu dengan ukuran berbeda. Pemain memanfaatkan kayu yang lebih panjang untuk mengungkit dan memukul kayu kecil, sedangkan jarak pukulan dapat dihitung sesuai aturan yang disepakati.

Kehadiran telepon pintar dan permainan digital memberi anak-anak pilihan hiburan yang berbeda dari permainan di halaman rumah. Meski begitu, perubahan tersebut tidak berarti semua permainan tradisional sudah ditinggalkan. Keberadaannya dapat berbeda antara satu lingkungan dengan lingkungan lainnya, bergantung pada kebiasaan masyarakat dan kesempatan anak-anak untuk bermain bersama.

Sekolah, kelompok pemuda, dan kegiatan budaya di nagari dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan kembali permainan rakyat. Anak-anak bisa mempelajari cara bermain sipak rago, mencoba gasiang, atau mengenal aturan sipak tekong melalui kegiatan yang aman dan didampingi orang dewasa. Permainan yang sebelumnya hanya mereka dengar dari cerita orang tua pun dapat dicoba secara langsung.

Permainan tradisional anak nagari memperlihatkan beragam cara masyarakat Minangkabau menciptakan hiburan dari benda sederhana dan kegiatan bersama. Sipak rago membutuhkan kekompakan, sipak tekong mengandalkan strategi, sedangkan gasiang menguji ketepatan tangan. Ketika permainan itu kembali dimainkan di halaman sekolah atau lapangan kampung, anak-anak memiliki kesempatan untuk mengenal salah satu bagian kebudayaan daerah melalui pengalaman mereka sendiri. (***)

IKLAN POSISI 15
Bagikan

Opini lainnya
AMSI MEMBER
Terkini
BANNER POSOSI 5
IKLAN LAYANAN MASYARAKAT SAMPAH