Gambaran tentang Bundo Kanduang juga muncul dalam kaba Cindua Mato. Sosok Bundo Kanduang dalam cerita tersebut merupakan figur perempuan yang memiliki kedudukan penting dalam lingkungan kerajaan Minangkabau. Kisah itu merupakan bagian dari tradisi sastra lisan dan tidak dapat disamakan begitu saja dengan catatan sejarah pemerintahan Pagaruyung yang bersifat dokumenter.
Dalam kehidupan masyarakat Minangkabau sekarang, bentuk keluarga dan tempat tinggal sudah banyak berubah. Tidak semua keluarga lagi tinggal bersama dalam satu rumah gadang seperti gambaran kehidupan komunal masa lalu. Meski begitu, hubungan keturunan melalui ibu, keberadaan kaum, serta konsep harta pusaka masih menjadi bagian dari pembahasan adat di berbagai nagari Sumatera Barat.
Bagi masyarakat Minangkabau, Bundo Kanduang tidak hanya berkaitan dengan sebutan bagi seorang ibu. Ia juga menjadi gambaran tentang kedudukan perempuan dalam keluarga matrilineal. Perannya berjalan bersama keberadaan mamak, pangulu, rumah gadang, dan kaum sehingga struktur sosial Minangkabau terbentuk melalui pembagian tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan. (***)







