IKLAN KUPING KANAN PASISI 12
IKLAN POSISI 13

Bansi Minangkabau Punya Bentuk Pendek dan Bunyi Khas dalam Musik Tradisi

Foto Rahma Wulandari
Ilustrasi Bansi Minangkabau Punya Bentuk Pendek dan Bunyi Khas dalam Musik Tradisi
PT GITO PERDANA SEJAHTERA

Di Nagari Kuncir, keberadaan saluang bansi juga memperlihatkan bahwa istilah dan bentuk alat musik perlu dilihat sesuai konteks kesenian setempat. Bansi sebagai alat musik tiup dapat tampil dalam susunan pertunjukan bersama instrumen lain, bukan hanya dimainkan secara tunggal. Dalam sajian Dendang Padang Pulai dan Tari Piring Basiang Batanam, bunyi instrumen tersebut menjadi bagian dari hubungan antara teks dendang dan gerakan tari.

Penggunaan bansi juga memperlihatkan perbedaan dengan saluang Minangkabau yang dikenal luas di berbagai daerah. Saluang tradisional yang berkembang di banyak nagari umumnya dibuat dari talang dan memiliki karakter permainan tersendiri, sementara bansi mempunyai bentuk yang lebih pendek dan menggunakan susunan lubang nada yang berbeda. Bahkan dalam perkembangan musik di Kota Padang, Saluang Pauah memiliki enam lubang nada dan bentuk yang secara sekilas menyerupai bansi, tetapi keduanya tetap merupakan instrumen yang berbeda.

Perbedaan tersebut penting karena alat musik Minangkabau tidak selalu memiliki bentuk dan cara permainan yang seragam. Saluang Pauah yang berkembang di Kecamatan Pauh, Kota Padang, misalnya, mempunyai enam lubang dan menghasilkan tujuh nada. Sementara itu, bansi dalam dokumentasi organologi dan kesenian Minangkabau disebut memiliki tujuh lubang nada. Perbedaan bentuk seperti ini menunjukkan bahwa perkembangan alat musik di Sumatera Barat berlangsung dengan ciri masing-masing.

Bansi kemudian tidak hanya dapat dilihat sebagai benda yang menghasilkan bunyi. Di Saruaso, alat musik ini terkait dengan kegiatan manyadok onou, sedangkan di Kuncir, saluang bansi hadir dalam pertunjukan dendang dan Tari Piring Basiang Batanam. Dua contoh tersebut berasal dari lingkungan masyarakat yang berbeda, sehingga fungsi bansi pun mengikuti konteks kesenian dan kehidupan sosial tempat alat musik itu digunakan.

Advertisement
BANNER POSISI 14
Scroll kebawah untuk lihat konten
Keberadaan bansi dalam berbagai konteks membuat alat musik ini memiliki posisi tersendiri dalam khazanah musik Minangkabau. Bentuknya yang pendek, penggunaan lubang nada untuk membentuk melodi, serta keterlibatannya dalam pertunjukan seperti dendang Padang Pulai memperlihatkan bahwa bansi dapat ditempatkan dalam berbagai susunan musik. Di sisi lain, contoh Nagari Saruaso menunjukkan adanya hubungan antara alat musik dan aktivitas masyarakat yang lebih khusus.

Bansi akhirnya dapat ditemukan dalam dua ruang yang saling berdekatan, yakni kehidupan masyarakat dan seni pertunjukan. Di satu daerah ia berkaitan dengan kegiatan manyadok onou, sementara di Nagari Kuncir Kabupaten Solok bunyinya menjadi bagian dari pertunjukan yang menggabungkan dendang, rebana, dan Tari Piring Basiang Batanam. Dari konteks-konteks tersebut, bansi tetap dapat dikenali sebagai salah satu alat musik tiup yang memiliki tempat dalam tradisi musik Minangkabau. (***)

IKLAN POSISI 15
Bagikan

Opini lainnya
AMSI MEMBER
Terkini
BANNER POSOSI 5
IKLAN LAYANAN MASYARAKAT SAMPAH