Di dataran pesisir Sumatera Barat, tepatnya di Kecamatan Ulakan Tapakis, Kabupaten Padang Pariaman, terdapat sebuah fenomena kultural yang setiap tahunnya menyedot perhatian ribuan orang. Tradisi ini dikenal sebagai Basapa. Berasal dari kata "Safar" nama bulan kedua dalam kalender Hijriah istilah ini telah mengalami proses dialektika bahasa lokal menjadi "Basapa". Namun, jauh melampaui sekadar nama bulan, Basapa adalah sebuah perayaan spiritual yang mendalam, titik temu antara syariat Islam dan tradisi adat Minangkabau yang telah bertahan melintasi pergantian zaman.
Tradisi Basapa sejatinya adalah sebuah ritual ziarah akbar yang ditujukan ke makam Syekh Burhanuddin. Sosok ini bukanlah tokoh sembarangan dalam sejarah Minangkabau; ia diakui secara luas sebagai penyebar utama ajaran Islam di wilayah pesisir Sumatera Barat, khususnya melalui pendirian surau yang menjadi basis penyebaran tarekat Syattariyah. Kematian beliau yang kemudian diperingati setiap tanggal 10 Safar menjadi momentum bagi pengikut dan masyarakat umum untuk mengenang jasa dakwahnya.
Secara filosofis, Basapa adalah manifestasi dari falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah . Dalam kerangka ini, agama Islam bukanlah sesuatu yang asing bagi masyarakat Minangkabau, melainkan telah menjadi fondasi utama yang menopang adat. Kunjungan ke makam Syekh Burhanuddin dipandang sebagai bentuk bakti kepada guru spiritual yang telah meletakkan landasan moral dan religius bagi masyarakat Minangkabau
Ditinjau dari perspektif etnografi komunikasi, Basapa bukanlah ritual yang bisu. Ia adalah bentuk komunikasi kolektif yang rumit. Para peziarah yang datang dari berbagai penjuru, tidak hanya dari Padang Pariaman melainkan juga dari luar provinsi, membawa serangkaian simbol dan tindakan yang disepakati. Kegiatan seperti zikir bersama, pembacaan doa, hingga pemberian sedekah di area makam merupakan bahasa nonverbal yang mengomunikasikan rasa syukur, permohonan keselamatan, dan penguatan identitas kelompok.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Ediyanti dkk. mengenai etnografi komunikasi Basapa, disebutkan bahwa tradisi ini menciptakan ruang interaksi yang mempertebal solidaritas sosial. Selama prosesi berlangsung, batas-batas status sosial di masyarakat seolah luruh; di hadapan makam dan dalam suasana doa yang khusyuk, para peziarah bersatu dalam satu tujuan spiritual. Hal ini menunjukkan bahwa Basapa berfungsi sebagai alat pemersatu yang sangat efektif dalam menjaga keharmonisan masyarakat Minangkabau.
Namun, tantangan zaman modern tetap membayangi. Di tengah gempuran nilai-nilai globalisasi dan perubahan pola pikir generasi muda, mempertahankan tradisi Basapa memerlukan upaya kontekstualisasi. Penting bagi generasi penerus untuk tidak hanya melihat Basapa sebagai keramaian tahunan, melainkan memahami sejarah panjang di baliknya. Bahwa Basapa adalah pengingat tentang bagaimana Islam diterima dengan ramah oleh masyarakat Minangkabau, yang kemudian dibungkus dengan tata krama lokal yang santun dan terbuka.
Sejatinya, Basapa adalah cermin dari wajah Islam di tanah Minangkabau: Islam yang tidak membuang adat, melainkan merangkulnya sebagai instrumen untuk memuliakan nilai-nilai ketuhanan. Dengan menjaga tradisi ini, masyarakat Padang Pariaman sebenarnya sedang menjaga "jangkar" identitas mereka. Di masa depan, tantangannya adalah bagaimana menjaga agar nilai sakral dari Basapa tidak tereduksi menjadi sekadar wisata religi komersial, melainkan tetap menjadi ruang refleksi diri dan peneguhan iman yang murni.
Pada akhirnya, tradisi Basapa akan tetap hidup selama masyarakatnya masih memiliki kerinduan untuk menapaki jejak leluhur dan menjaga tali silaturahmi. Ia adalah bukti otentik bahwa di tanah Minangkabau, antara doa yang dipanjatkan di makam ulama dan denyut kehidupan sosial sehari-hari, terdapat benang merah yang tak pernah putus: sebuah komitmen untuk hidup dalam harmoni antara perintah Tuhan dan kearifan nenek moyang.
Referensi:







