Pendahuluan
Perkembangan teknologi dan internet telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Informasi kini dapat diakses dengan mudah hanya melalui genggaman tangan. Media sosial menjadi ruang yang sangat berpengaruh dalam membentuk pola pikir, sikap, serta perilaku masyarakat, terutama generasi muda (Nasrullah, 2023). Di satu sisi, kemajuan teknologi memberikan banyak manfaat, seperti kemudahan memperoleh informasi, memperluas wawasan, dan mempercepat komunikasi. Namun di sisi lain, kemudahan akses tersebut juga membuka peluang masuknya berbagai konten yang tidak selalu sesuai dengan norma sosial dan budaya yang berlaku di masyarakat (APJII, 2024).
Salah satu dampak yang menjadi perhatian adalah meningkatnya paparan terhadap konten seksual yang dapat memengaruhi cara pandang seseorang terhadap seksualitas. Ketika informasi yang diterima tidak disertai dengan pemahaman yang benar, individu dapat mengalami kesalahpahaman mengenai nilai-nilai moral, etika, dan batasan perilaku sosial (Santrock, 2018). Kondisi ini berpotensi mendorong munculnya berbagai bentuk perilaku seksual yang dianggap menyimpang oleh norma yang berlaku dalam masyarakat.
Fenomena tersebut menjadi tantangan tersendiri di era digital. Arus informasi yang begitu cepat membuat masyarakat, khususnya remaja dan mahasiswa, harus mampu memilah serta menyaring informasi yang diterima. Oleh karena itu, edukasi menjadi salah satu langkah penting yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kesadaran, pemahaman, dan kemampuan masyarakat dalam menghadapi berbagai pengaruh negatif yang muncul dari perkembangan teknologi informasi (UNESCO, 2021).
Perilaku Seksual Menyimpang dan Faktor Penyebabnya
Munculnya perilaku seksual menyimpang tidak dapat dijelaskan hanya dari satu faktor saja. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa terdapat banyak faktor yang saling berkaitan dan memengaruhi perilaku seseorang. Salah satu faktor yang paling dominan adalah lingkungan sosial. Lingkungan keluarga, teman sebaya, dan komunitas tempat seseorang berinteraksi memiliki peran besar dalam membentuk pola pikir dan perilakunya (Hurlock, 2017).
Selain itu, kurangnya edukasi mengenai seksualitas yang sehat juga menjadi faktor penting. Banyak individu memperoleh informasi mengenai seksualitas dari internet atau media sosial tanpa pendampingan dan penjelasan yang tepat. Akibatnya, mereka dapat mengembangkan pemahaman yang keliru mengenai hubungan sosial, identitas diri, dan perilaku seksual (WHO, 2023).
Pengaruh globalisasi juga turut memberikan dampak yang signifikan. Melalui media sosial, masyarakat dapat dengan mudah mengakses berbagai budaya dan gaya hidup dari berbagai negara. Tidak semua nilai yang masuk sejalan dengan norma yang berlaku di Indonesia. Ketika individu tidak memiliki kemampuan literasi digital yang baik, mereka cenderung menerima informasi tersebut tanpa melakukan evaluasi kritis terhadap dampaknya (Setiawan, 2022).
Peran Media Sosial dalam Membentuk Persepsi Masyarakat







