Krisis pewarisan bahasa Minangkabau tidak hanya berdampak pada kemampuan berbahasa saja, tetapi juga berpengaruh pada pemahaman budaya. Bahasa dan budaya merupakan dua unsur yang saling berkaitan satu sama lain. Banyak nilai adat Minangkabau yang tersimpan dalam ungkapan tradisional, petatah petitih, yang membuat orang sulit memahaminya apabila dia tidak menguasai bahasa Minangkabau. Ketika generasi muda kehilangan kemampuan berbahasa Minangkabau, mereka juga bisa kehilangan akses terhadap pengetahuan budaya Minangkabau yang diwariskan oleh leluhur.
Pada saat anak perantau pulang ke kampung mereka merasa kesulitan untuk memahami pidato adat, pasambahan, maupun percakapan para niniak mamak. Mereka bahkan sering memerlukan bantuan penerjemah ke bahasa Indonesia agar dapat memahami isi percakapan. Situasi ini membuat adanya jarak linguistik anatara generasi tua dan generasi muda. Jika kondisi ini terus berlangsung, kemampuan untuk meneruskan tradisi lisan di Minangkabau akan semakin melemah.
Meskipun demikian, krisis pewarisan bahasa Minangkabau bukanlah masalah yang tidak dapat diatasi. Orang tua dan keluarga memiliki peranan penting dalam menjaga pewarisan bahasa daerah. Penggunaan bahasa Minangkabau di rumah tidak harus menggantikan bahasa Indonesia. Kedua bahasa dapat digunakan secara berdampingan yang membuat anak mampu menguasai kedua bahasa dengan baik. Selain keluarga, komunitas perantau juga berperan penting dalam pelestarian bahasa. Berbagai kegiatan yang bisa dilakukan seperti pertemuan organisasi, pertunjukan bahkan lomba yang bisa membuat bahasa Minangkabau menjadi bahasa utama pada kegiatan tersebut. Lingkungan sosial yang mendukung bahasa Minangkabau akan memotivasi anak-anak perantau untuk bisa memepelajari dan mempertahankan bahasa Minangkabau.







