SAWAHLUNTO - Rahmat Zoraldi, bersama lima rekannya Nasrullah, Anda Abdullah, Roki Eko Waluyo, Tungki Febrianto, dan Ilham Adzani, terlihat sibuk dan tak satupun memegang handphone kecuali alat bantu pertukangan, gergaji, palu, pacul, dan benda bantu lainnya, saat merampungkan bangunan pondok bambu beratap rumbia di lahan seluas 1,5 hektar bekas penambangan batubara PT Bukit Asam Tbk Unit Pertambangan Ombilin di Kandi, Sawahlunto, Sumatera Barat.
Saat itu baru sekitar pukul 10.30 WIB, cuaca cerah menyingkirkan awan hitam sehingga cahaya matahari dengan leluasa menembus sekat-sekat dedaunan pohon peneduh jenis akasia dan sengon. Suasana terasa adem, tidak seperti hiruk pikuk lalu lintas dan orang dipusat perkotaan. Apalagi, oksigen yang dihirup pagi itu benar-benar bersih dari polusi udara.
Ketika itu saya berhenti diseberang jalan jalur dua arah, berjarak sekitar 300 meter dari Lapas Narkotika Kelas III Sawahlunto atau persis didepan gerbang masuk lokasi tempat Zoraldi dan rekannya menyibukan diri. Dibagian atas gerbang, tampak jelas sebuah spanduk terpajang melambai bertuliskan "Selamat Datang Dipusat Lebah Madu Pramuka Sawahlunto".
Saya langsung menerobos masuk, meski belum diizinkan sang pengelola lahan. Tapi dari jauh saya sudah melambaikan tangan sebagai tanda ingin restu untuk melihat dari dekat aktivitas yang dilakukan para anak muda ditempat tersebut. Sebab, nama "Lebah Madu Pramuka Sawahlunto" sudah terlanjur viral dan terkenal walau usaha ini baru berumur 5 bulan mengikuti suksesnya budidaya "Madu Pramuka" di Cibubur, Jakarta.
Rasa penasaran itulah yang mengundang saya untuk menghampiri tempat ini. Tetapi, kelima pasang mata saat itu tak satupun mengenal wajah saya, maklum tertutup helm dan masker yang masih bertengger dan menempel di kepala serta mulut dan hidung. Sekejab, saya enyahkan benda-benda pelindung diri itu, lantas Zoraldi dan kawan-kawannya bersuara "Ehh !! ternyata Bapak" kata mereka ramah, sambil mempersilahkan saya duduk sembari menawari minum secangkir kopi panas.
Zoraldi, biasa dipanggil Aldi menuturkan, usaha budidaya lebah ini baru berdiri 16 Nopember 2020 silam, terinspirasi dari Yulius Ketua Harian Kwarda Pramuka Sumbar yang juga sebagai Ketua Bidang Usaha dan Asset Kwartir Nasional serta Komisaris Utama PT Madu Pramuka Cibubur Jakarta, yang selalu memompa semangat mereka dan alumni pramuka untuk mengelola usaha produktif bernilai ekonomi dan sehat ini.
Terbius dengan logika berpikir positif dan menguntungkan, para pengurus kwarcab dan veteran pramuka secara bergotong royong mampu menghimpun iyuran semampunya untuk dikumpulkan sebagai modal usaha. Alhamdulillah, kata Aldi, jiwa korsa dan semangat gotong royong yang ada dalam jiwa seorang pramuka akhirnya mampu menggalang modal sebesar Rp 22,5 juta untuk pengadaan 10 koloni lebah yang dibeli langsung ke PT Madu Pramuka Jakarta.
"Modal dihimpun secara bergotong royong, bagian dari bidang usaha dan asset Kwarcab. Sedang ketua pengelola usaha budidaya lebah madu ini saya sendiri bersama Nasrullah, Anda Abdullah, Roki Eko Waluyo, Tungki Febri Arianto, dan Ilham Adzani. Kami semua sarjana dan alumni pramuka yang ingin serius menggeluti usaha ini." ungkap Aldi.
Diutarakan Aldi, produksi perdana dari 10 koloni lebah madu yang dikelolanya mencapai 25 kg atau 2,5 kg per koloni yang dijual seharga Rp 100 ribu untuk madu berisi 350 mililiter per botol, kemudian harga Rp 80 ribu untuk 250 mililiter madu per botol, dan Rp 20 ribu untuk satu botol madi berisi 20 mililiter, dengan masa panen 2 kali dalam satu bulan.
Editor :






