Pertemuan ini menjadi langkah penguatan narasi sejarah maupun promosi pariwisata internasional, mengingat keterkaitan historis Jam Gadang dengan Eropa, khususnya pada teknologi mesin jam yang memiliki kemiripan dengan Big Ben.
Dalam dialog bersama pihak Belanda, pembahasan difokuskan pada penguatan aspek historis pembangunan Jam Gadang. Selain dikenal sebagai karya arsitek lokal Minangkabau, bangunan ini juga memiliki nilai sejarah internasional, termasuk penggunaan mesin jam yang berasal dari Jerman, jelas Wako Ramlan.
Untuk itu, Pemerintah Kota Bukittinggi menurut Ramlan, mendorong adanya kerja sama dalam memperoleh akses terhadap arsip dan dokumen asli pembangunan Jam Gadang periode 1925–1926 yang tersimpan di Belanda.
“Peringatan 100 tahun Jam Gadang tidak hanya akan menjadi seremoni semata, tetapi dikemas sebagai momentum strategis untuk mengangkat Bukittinggi ke panggung internasional melalui penguatan budaya dan literasi. Salah satu agenda unggulan adalah penyelenggaraan International Minangkabau Literacy Festival (IMLF) ke-4 yang akan digelar pada 3–7 Juni 2026,” jelas Ramlan.
Editor : Medio Agusta






