Tantangan ke depan adalah bagaimana fondasi yang telah diperkuat ini menjadi basis untuk fase akselerasi berikutnya. Perlambatan pertumbuhan ekonomi perlu direspons melalui peningkatan investasi, percepatan proyek strategis, hilirisasi sektor unggulan, serta penguatan konektivitas dan daya saing regional. 2. Krisis Berulang dan Tekanan Fiskal Daerah Ketahanan sosial yang relatif terjaga tersebut sesungguhnya dibangun di atas struktur f iskal daerah yang sedang mengalami tekanan serius.
Bencana tahun 2024 meninggalkan konsekuensi anggaran yang tidak kecil: kerusakan jalan provinsi dan kabupaten/kota, jembatan penghubung antarwilayah, fasilitas pendidikan, sarana kesehatan, jaringan irigasi, serta permukiman masyarakat membutuhkan rehabilitasi segera. Sebagian infrastruktur bahkan memerlukan rekonstruksi total, bukan sekadar perbaikan ringan. Kebutuhan pembiayaan yang besar itu belum sepenuhnya tertangani ketika tahun 2025 kembali menghadirkan bencana dengan intensitas dan cakupan yang lebih luas.
Akumulasi dua gelombang bencana ini menciptakan apa yang dalam kajian keuangan publik disebut sebagai fiscal stress scenario, yaitu situasi di mana kapasitas fiskal daerah menghadapi tekanan simultan dari sisi belanja dan penerimaan. Di satu sisi, belanja tanggap darurat harus segera dicairkan untuk evakuasi, logistik, hunian sementara, serta pemulihan layanan dasar. Di sisi lain, kebutuhan rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur memerlukan alokasi anggaran jangka menengah yang signifikan.
Pada saat yang sama, pemerintah daerah tetap berkewajiban membiayai program pembangunan rutin seperti pendidikan, kesehatan, pengentasan kemiskinan, serta belanja pegawai dan pelayanan publik lainnya. Tekanan ini diperberat oleh fakta bahwa ruang fiskal daerah pada dasarnya terbatas, ditambah dengan adanya pengurangan dana transfer dari pemerintah pusat ke daerah.
Struktur APBD sebagian besar telah terikat pada belanja wajib dan mengikat, sehingga fleksibilitas untuk melakukan realokasi besar-besaran sangat terbatas. Selain itu, bencana juga berpotensi menekan sisi penerimaan daerah, baik melalui perlambatan aktivitas ekonomi maupun terganggunya basis pajak dan retribusi. Dengan demikian, pemerintah daerah menghadapi dilema klasik antara kebutuhan pembiayaan yang meningkat tajam dan kapasitas pendanaan yang relatif stagnan.
Keterlambatan tersebut tidak hanya berdampak pada tertundanya pemulihan infrastruktur, tetapi juga berpotensi menghambat percepatan pemulihan ekonomi daerah. Oleh karena itu, tekanan fiskal yang muncul akibat krisis berulang ini harus dibaca sebagai isu strategis lintas level pemerintahan. Ketahanan sosial yang telah terjaga perlu ditopang oleh ketahanan fiskal yang lebih kuat. Dalam konteks inilah sinergi antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota menjadi krusial, agar pemulihan tidak hanya bersifat administratif, tetapi benar-benar mampu mengembalikan fungsi ekonomi dan sosial Sumatera Barat secara lebih cepat dan berkelanjutan.
Memimpin di Tengah Krisis Bencana Namun di balik angka-angka statistik tersebut, publik melihat dimensi kepemimpinan yang lebih personal. Mahyeldi bukan figur baru dalam manajemen krisis. Sejak gempa besar 30 September 2009 saat menjabat sebagai Wakil Wali Kota Padang, telah terbiasa berada di garis depan penanganan bencana berskala nasional, mengawal tanggap darurat, koordinasi bantuan, hingga pemulihan layanan publik.
Pengalaman itu membentuk fondasi kepemimpinannya dalam situasi darurat. Saat menjadi Wali Kota Padang, ia kembali menghadapi banjir besar yang berulang hampir setiap tahun. Dari situ, terbentuk karakter kepemimpinan yang tenang, sistematis, dan berbasis koordinasi lintas sektor. Dalam setiap krisis, Mahyeldi memahami bahwa stabilitas komando dan kejelasan arah menjadi kunci. Keputusan harus cepat, tetapi tetap terukur dan berbasis data. Pengalaman panjang inilah yang membuatnya tidak mudah terguncang ketika Sumatera Barat kembali menghadapi bencana beruntun pada 2024 dan 2025.
Namun sorotan besar tertuju pada Vasko. Datang dari ibu kota dengan latar belakang jejaring nasional yang kuat, awalnya ada keraguan publik. Apakah figur muda dari Jakarta ini siap menghadapi kompleksitas bencana Sumatera Barat? Apakah ia akan tergagap atau bahkan shock menghadapi krisis besar di awal kepemimpinannya?
Editor : Ade MS






