LUBUK ALUNG, PADANG PARIAMAN - Universitas Negeri Padang (UNP) kembali meneguhkan komitmennya dalam pemberdayaan masyarakat melalui Program Kemitraan Masyarakat (PKM). Tahun ini, kegiatan dilaksanakan di Nagari Sikabu, Kecamatan Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman, dengan tema “Pemberdayaan Kelompok KWT Nagari Sikabu Lubuk Alung Melalui Optimalisasi Teknologi Pengolahan Minyak Kelapa dan Strategi Pemasaran Inovatif Berkelanjutan”. Program ini berlangsung selama tiga bulan, mulai September hingga November 2025, dan melibatkan 20 peserta dari anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Sikabu.
Pelaksanaan kegiatan dipimpin oleh Prof. Dr. Rahadian Zainul, S.Pd, M.Si sebagai ketua tim pelaksana, didampingi oleh anggota tim: Dr. Ariusni, S.E., M.Si., Prof. Dr. Elida, M.Pd , Adila Veneliza dan Livia Putrima Rijas. Kehadiran tim ini bukan sekadar memberikan materi, melainkan juga melakukan pendampingan penuh agar peserta tidak hanya memahami teori tetapi juga menguasai keterampilan teknis yang dapat diaplikasikan secara mandiri. Menurut Prof. Rahadian, PKM ini dirancang untuk menjawab kebutuhan nyata masyarakat desa, khususnya perempuan, agar lebih produktif dan mandiri secara ekonomi. “Kami tidak hanya memberikan pelatihan teknis, tetapi juga membangun semangat kewirausahaan. Harapannya, ibu-ibu KWT dapat mengembangkan keterampilan ini menjadi usaha produktif yang berkelanjutan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan keluarga dan masyarakat,” ujarnya dalam sambutan pembukaan.
Setelah memahami konsep dasar, pelatihan berlanjut dengan praktik pembuatan nata de coco. Prosesnya dimulai dari penyaringan air kelapa, penimbangan gula, ZA, dan cuka sesuai takaran, lalu perebusan hingga suhu tertentu sebelum dituang ke wadah fermentasi. Bibit nata kemudian ditambahkan, dan larutan disimpan selama tujuh hari. Praktik ini menjadi salah satu momen menarik karena para peserta baru pertama kali melihat proses fermentasi yang terukur. Seminggu kemudian, hasil fermentasi dipanen, dicuci, dipotong kecil, lalu direbus. Setelah melalui tahap lanjutan, produk nata de coco dikemas dengan sirup dan biji selasih dalam cup yang menarik.
Salah satu peserta, Ibu Rina, mengungkapkan pengalaman berkesannya saat berhasil memanen nata pertama. “Awalnya saya ragu apakah bisa membuat nata de coco, tapi ternyata setelah diajari tahap demi tahap kami berhasil. Rasanya bangga melihat produk ini bisa diolah sendiri dan berpotensi dijual untuk menambah penghasilan keluarga,” ujarnya dengan penuh semangat. Testimoni ini menggambarkan bahwa kegiatan tidak hanya memberikan keterampilan baru, tetapi juga membangkitkan rasa percaya diri peserta untuk memulai usaha sederhana dari rumah.
Pada pertemuan berikutnya, kegiatan difokuskan pada pembuatan sabun cair berbasis VCO. Peserta diajarkan langkah-langkah penting, mulai dari persiapan bahan, pembuatan larutan KOH, hingga proses pencampuran dengan pengukuran suhu yang tepat. Proses ini menuntut ketelitian, namun tetap bisa diikuti dengan baik berkat pendampingan intensif dari tim. Peserta juga diberi kesempatan menambahkan pewarna alami untuk mempercantik tampilan sabun. Setelah proses selesai, sabun cair dikemas ke dalam botol plastik, siap dipakai maupun dijual. Antusiasme kembali terlihat ketika para peserta menyadari bahwa mereka mampu menghasilkan produk rumah tangga berkualitas dengan bahan yang sederhana.
Selama pelatihan berlangsung, suasana penuh kebersamaan tercipta. Peserta tidak hanya belajar, tetapi juga saling mendukung ketika menghadapi kesulitan teknis. Tim pelaksana memberi arahan detail, sekaligus memastikan bahwa setiap peserta benar-benar memahami tahapan yang dikerjakan. Dokumentasi berupa foto-foto kegiatan—mulai dari pembukaan, proses praktik, hingga produk jadi—menjadi bukti nyata ketercapaian program.
Manfaat program ini dirasakan langsung oleh anggota KWT Sikabu. Mereka kini memiliki pengetahuan tentang teknik produksi yang higienis dan sesuai standar, keterampilan praktis yang bisa dikembangkan menjadi usaha rumah tangga, serta motivasi baru untuk meningkatkan ekonomi keluarga. Produk nata de coco dan sabun cair dinilai memiliki prospek pasar yang luas, terutama dengan tren masyarakat yang semakin peduli pada produk sehat dan ramah lingkungan.
Editor : Marjeni Rokcalva






