INI artikel lanjutan dari artikel saya sebelumnya: Menunggu Parle 18 Orang. Artikel yang berisi harapan saya dan mungkin sebagian warga Sumbar agar 18 orang yang sudah resmi mendapat ragam fasilitas di Senayan itu segera mematikan "mode mute" mereka.
Judul artikel ini sengaja saya buat agak provokatif, agar mereka yang 18 orang itu tidak mengulangi keteledoran yang pernah dilakukan senior-senior mereka sebelum-sebelumnya. Tidak ada harap lain, saya ingin benar yang 18 orang itu menjadi tokoh-tokoh hebat yang diperhitungkan di tingkat nasional. Tokoh-tokoh yang pokok-pokok pikirannya mewarnai diskursus politik-kebangsaan yang membanggakan kita.
Bukan sekadar orang daerah yang pindah kantor ke Jakarta. Bukan pula sekadar jadi penyalur proyek-proyek Pemerintah di kampung atau orang yang hanya jadi agen dana Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Badan Usaha Milik Negara.
Sekali lagi, saya yakin, ini bukan hanya harapan saya seorang. Kethauilah, banyak orang lain yang berharap sama: batang yang sudah lama terendam bangkit lagi.
Bukan bermaksud meratapi kotoran hanyut, sudah lama benar dari rahim Bundo Kanduang tidak lahir tokoh-tokoh berkelas serupa Bung Hatta, Sutan Syahrir, M Yamin, M Natsir, H Agus Salim, Buya Hamka, Tan Malaka dan lainnya. Tokoh-tokoh yang dikagumi orang se-nusantara.
Kita memang kehilangan tokoh yang berkepala tegak di Senayan. Ada, tapi jumlahnya tidak seberapa. Itupun lebih banyak membicarakan urusan domestik partai mereka, bukan perang pemikiran terkait hal-hal besar dan penting untuk kemajuan bangsa dan negara.
Proses lahirnya tokoh berpengaruh di dunia politik-kebangsaan memang berbeda dari masa ke masa. Bung Hatta dan kawan-kawan memulainya dengan jalan menguatkan kapasitas diri mereka. Mereka berjuang di tengah kepungan penjajah. Bacalah sejarah bagaimana Bung Hatta dan kawan-kawan menjadi tokoh-tokoh hebat.
Masa sekarang, prosesnya lain lagi. Jalur Senayan adalah salah satu jalan cepat menjadi tokoh nasional. Sebenarnya, proses melalui jalur Senayan relatif tidak terlalu sulit dan berliku seperti masa dulu. Sistem politik kontemporer sangat memungkinkan setiap orang menjadi tokoh. Perahu partai politik banyak yang bisa ditumpangi menuju Senayan.
Empat belas orang itu buktinya: mereka lahir dan berkembang seperti sekarang karena dianjungkan partai politik tempat mereka menumpang. Yang empat orang lagi, meskipun secara formal ke Senayan tidak melalui partai politik, mereka lahir dan dibesarkan dalam sistem politik yang sedang berjalan: sistem politik yang sangat memungkinkan orang-orang tertentu menjelma menjadi seorang tokoh.
Editor :






