PADANG PANJANG - Alfian biasa dipanggil Pian, tampak lelah. Pria 30 tahun itu duduk dipinggir trotoar di arah jalan Kantor Lurah Koto Panjang, sembari menyelonjorkan kakinya yang penat berjalan menjajakan tikar busa, di sekitar Kota Serambi Mekah itu, Selasa, (4/2/2020).
Menjual berbagai motif tikar busa, dilakoni oleh para "Sales" asal Tebing Tinggi dari rumah ke rumah. Mereka bekeliling ke berbagai daerah di Sumatera dan sempat singgah di Kota Padang Panjang. Berharap rupiah untuk menafkahi keluarga.
Hari - hari, biasanya pian sendiri, namun kali ini, ditemani sohibnya Hendra (30), karena ponselnya baru saja hilang. Pian dan temannya menyandang berpulun -pulun tikar, penuh di kedua tangan dan punggungnya.
Kulit muka yang kusam berminyak, rambut pirang tersengat matahari, tak ia hiraukan demi menyambung kebutuhan hidup.
" Saya tak begitu tahu jalan jalan di Kota Padang Panjang, nanti susah juga kembali ke tempat kumpul karna gak ada hp, hilang kemarin, untung teman saya mau berbarengan ," kata pria asal Tebing Tinggi itu.
Pian dan Hendra merupakan "sales" tikar. Bersama lima orang temannya, dia menjual berbagai motif tikar busa dari rumah ke rumah.
Dengan sistim bagi hasil, mereka menyetorkan setiap rupiah hasil dagangnya ke juragan yang membawa mereka keliling Sumatera. Harga tikar bervariasi dari 150 ribu rupiah hingga 500 ribu. Setelah di Kota Padang Panjang mereka berencana ke Sungai Rumbai.
Pian mengaku sudah 14 tahun menjadi sales. Dia telah mengelilingi banyak daerah di Sumatera. " Saya sudah 14 tahun keliling Sumatera jualan tikar, dibawa sama bos, kami satu kampung, asal Tebing Tinggi Sumatera Utara," katanya.
Pian bisa mengantongi 1 juta atau lebih untuk menafkahi anak dan istrinya setiap bulan. Namun terkadang Pian harus pulang tiga bulan sekali, karena hasil yang dibawa belum mencukupi.
Editor : Berita Minang






