"Untuk memperoleh uang dengan mudah cukup jadi preman bernyali melakukan kekerasan, namun hasilnya haram dan selalu membuat hati tak tenang. Tapi itu dulu, sekarang saya harus berkeringat banting tulang, Alhamdulillah perasaan jadi tenang dan halal." Tutur Riki Ekoni (40), seorang peternak sapi dan kambing di perbatasan Dusun Kayu Gadang Desa Santur dengan Desa Rantih, Kecamatan Talawi, Sawahlunto, Sumatera Barat Kamis (18/5/2023).
Riki Ekoni, pria bertato ini menyadari cara hidup dengan kekerasan tidaklah pantas bagi dirinya yang sudah memiliki tiga anak dari istri bernama Sisca Kala Dewi. Dia sadar, selaku orang tua dia tidak akan mau mewarisi tindak kekerasan kepada ketiga putra putrinya. Mumpung umur masih 40 tahun, ia mengaku harus meninggalkan cara lamanya sebagai preman untuk kembali kejalan yang benar menjadi seorang enterpreneur beternak sapi dan kambing.
"Allah telah menyadarkan dan memberi jalan untuk saya kejalan yang lurus dengan rezeki yang halal, sebagai seorang peternak sapi dan kambing untuk mengawali mimpi saya sedari dulu ingin menjadi seorang enterpreneur." Sambung Riki, sambil menunduk dan sedikit mendesah.
Kini, Riki, mulai dengan dunia barunya menggeluti usaha mengembangkan peternakan sapi dan kambing. Awalnya dengan modal 5 sapi indukan sekarang sudah berkembang jadi 9 ekor. Kemudian dari 5 ekor kambing kini populasinya sudah menjadi 52 ekor. Dengan investasi awal sekitar Rp 400 juta termasuk biaya pembukaan lahan dan kandang. Dia optimis, usahanya akan berkembang kedepan karena dari dua jenis ternak ini sama-sama akan melahirkan dan memproduksi populasi baru.
PT Bukit Asam Ternyata Peduli
Meski baru tiga tahun menggeluti usaha peternakannya, kepuasan dalam menikmati hidup sudah dirasakan Riki. Jalan mulai terbentang dihadapannya untuk menapak jejak kesuksesan dan kebahagian mas depan setelah sebuah perusahaan pelat merah PT Bukit Asam Tbk melirik keseriusannya mengelola lahan tidur seluas 10 hektar untuk disulap menjadi pusat peternakan mandiri dalam memenuhi kebutuhan konsumsi daging khususnya di Kota Sawahlunto. Apalagi untuk menyiapkan kebutuhan sapi qurban di Hari Raya Idul Adha 1444 H mendatang.
Menurut Riki Ekoni, semula dia mengelola lahan secara ilegal milik konsesi PT Bukit Asam Pertambangan Ombilin. Sebagai manusia berdarah preman lahan seluas 10 hektar itu dikuasainya secara sepihak tanpa peduli pemiliknya. Ternyata, ketika dia dipanggil PT Bukit Asam sebagai pemilik dan dikira akan menggugat dan meminta lahan yang dikuasai Riki secara ilegal tersebut direstui untuk digunakan oleh perusahaan tambang tersebut.
BUMN ini malahan mengapresiasi dan mendukung penuh kesungguhan Riki membuka usaha dilahan tersebut, tidak cukup hanya dengan ungkapan itu, melainkan direalisasikan dengan suntikan modal melalui program Corporate Social Community (CSR) sebesar Rp 145 jutayangbditerima dalam tiga tahapan tahun 2021, kemudian untuk 2023 ini akan adalagi mengucur bantuan untuk biaya penambahan kandang sebesar Rp 45 juta.
"Allah telah menurunkan rezekinya melalui tangan Bukit Asam sehingga sudah Rp 145 juta bantuan tanggung jawab bina lingkungan (TJSL) perusahaan yang saya terima dalam mengembangkan usaha ini. Tadinya saya skeptis terhadap PT BA yang terkesan tidak peduli masyarakat disini. Eeh ternyata saya salah, malahan PTBA yang melirik semangat dan kemandirian saya menggeluti usaha ini dengan memberikan stimulus modal awal" Ucap preman yang juga mantan Ketua Karang Taruna Desa Santur, peraih Juara KT Terbaik di Kota Sawahlunto tahun 2016 dan tahun 2017 silam, dan juga sebagai juara harapan satu ditingkat Provinsi Sumatera Barat.
Riki sudah terlanjur serius dan mencintai dunia barunya sebagai peternak berjiwa enterpreneur. Sapi dan kambingnya mulai banyak yang memesan untuk menghadapi Hari Raya Qurban mendatang. Untuk satu ekor kambing jantan dihargai sekitar Rp 6 juta dan sapi seharga Rp 17-20 juta.
"Doakan saya untuk tetap konsisten dan selalu berada dijalan lurus " sambungnya, mengakhiri pembicaraabn.(Iyos) Editor : Marjeni Rokcalva






