SAWAHLUNTO - Prihatin melihat nasib generasi mendatang buta informasi dan minim minat baca untuk membuka jendela dunia ilmu pengetahuan, lima mahasiswa asal Desa Silungkang Duo, Kecamatan Silungkang, Kota Sawahlunto, lakukan upaya edukasi terhadap anak-anak melalui gerakan literasi "Kolam Baca" dialam terbuka bawah langit, di Dusun Tangah Sawah, Ahad (13/6/21).
Kelima mahasiswa inovatif anak Nagari Silungkang itu adalah Raja Syeh Anugerah, mahasiswa semester VI Universitas Ahmad Dahlan Yogjakarta sebagai founder Komunitas Kolam Baca, kemudian support team-nya terdiri dari Aca, mahasiswa jurusan Biologi Unand, Bilqis mahasiswa jurusan ilmu hukum Unand, Damira mahasiswa jurusan biologi Universitas Negeri Padang, dan Willy mahasiswa STTIND Padang.
Raja Syeh Anugrah, didampingi rekannya kepada beritaminang.com mengatakan, gerakan literasi yang mereka bangun tidak terlepas dari keprihatinannya melihat potret generasi mendatang terutama anak-anak yang sudah terjangkiti virus smart phone dan korban belajar daring yang tidak efektif dan sulit dimengerti kalangan pelajar akibat dampak pandemi COVID-19 yang belum berakhir.
Melawan keprihatinan itu, naluri aktifis para mahasiswa ini bergejolak untuk ikut berkontribusi secara langsung dengan mendirikan gerakan literasi Kolam Baca 30 Oktober 2020 silam. Tujuannya tak lain agar anak-anak dan generasi mendatang di desanya tidak kehilangan momentum menguasai informasi dan teknolgi dengan rajin membaca dan menguasai ilmu pengetahuan lewat buku-buku yang edukatif.
"Kami sangat merasakan kondisi memprihatinkan saat ini, terutama generasi penerus desa kami yang kurang memiliki minat baca, sementara kita dituntut untuk bisa menguasai ilmu pengetahuan, informasi dan teknologi. Semua itu ada dalam buku. Untuk itulah, muncul gagasan membentuk komunitas yang didukung teman-teman, Alhamdulillah sampai hari ini mulai berubah anak-anak sudah mulai dekat dengan buku." Ungkap Raja dengan nada datar.
"Namun kami selalu menghadapi kendala, jika hari hujan kami harus mengungsi kedalam mushalla. Maklum belajarnya dengan menggelar tikar dibawah atap langit dimulai ba'da Ashar hingga pukul 18.00 WIB. Tapi semua happy dan menyenabgkan." Kata Aca, gadis cantik berkaca minus ini.
Gerakan Literasi Kolam Baca ini sudah mulai dikenal masyarakat, kalangan orang tua bangga dengan anak-anak yang datang ke lapak literasi atas kemauan sendiri.
"Saya hanya menemani karena anak saya yang minta belajar dilapak literasi Kolam Baca." Kata Rita seorang ibu yang mendampingi putri kecilnya saat itu.
Komunitas Kolam Baca berharap dukungan dari Kepala Desa dan tokoh masyarakat Desa Silungkang Duo untuk membantu tempat atau bangunan yang dapat difungsikan sebagai aktifitas komunitas Kolam Baca. Selain itu, jika ada pihak yang ingin menyalurkan bantuan berupa buku-buku dan bentuk lainnya mereka akan diterima dengan tangan terbuka, baik melalui program BUMN peduli maupun program lain dari pemerintahan desa dan Pemko Sawahlunto. (iyos)
Editor : Marjeni Rokcalva






