IKLAN KUPING KANAN PASISI 12
IKLAN POSISI 13

Banjir Bandang Solok: Jalan Sudah Dibuka, Apakah Risiko Sudah Selesai?

Foto Mutia Anggraini
Ilustrasi Banjir Bandang Solok: Jalan Sudah Dibuka, Apakah Risiko Sudah Selesai?
PT GITO PERDANA SEJAHTERA

Salah satu gagasan penting dalam Sendai Framework adalah Build Back Better. Secara sederhana, konsep ini berarti bahwa masa pemulihan setelah bencana dapat menjadi kesempatan untuk memperbaiki kondisi dan memasukkan langkah-langkah pengurangan risiko ke dalam proses pemulihan, rehabilitasi, dan pembangunan kembali. Dengan demikian, pemulihan tidak hanya bertujuan mengembalikan keadaan seperti sebelumnya, tetapi juga meningkatkan ketangguhan terhadap risiko berikutnya.

Konsep tersebut penting karena bencana seharusnya tidak hanya meninggalkan catatan tentang kerusakan. Bencana juga dapat menjadi sumber pembelajaran. Setelah jalan kembali terbuka, misalnya, dapat dilakukan evaluasi terhadap kondisi lereng, drainase, jembatan, badan jalan, serta titik-titik yang terdampak. Informasi tersebut kemudian dapat digunakan untuk menentukan bagian mana yang perlu dipantau dan langkah apa yang perlu disiapkan apabila hujan dengan intensitas tinggi kembali terjadi.

Hal ini tidak berarti setiap jalan yang baru saja dibuka harus dianggap tidak aman. Pembukaan akses tetap merupakan kebutuhan penting bagi masyarakat. Mobilitas warga, distribusi barang, dan aktivitas ekonomi perlu segera dipulihkan ketika kondisi telah memungkinkan. Namun, kecepatan pemulihan dan kehati-hatian dalam mengelola risiko sebenarnya dapat berjalan bersama.

Karena itu, pembukaan jalan sebaiknya diikuti dengan evaluasi risiko yang proporsional. Titik-titik yang memiliki potensi bahaya dapat dipantau lebih intensif ketika curah hujan tinggi. Informasi mengenai kondisi jalan dan peringatan dini perlu disampaikan secara cepat dan mudah dipahami. Jalur alternatif juga perlu diketahui masyarakat sehingga ketika akses utama kembali terganggu, masyarakat tidak sepenuhnya kehilangan pilihan.

Kesiapsiagaan masyarakat juga menjadi bagian penting. Memantau informasi cuaca, memperhatikan peringatan dini, memahami jalur alternatif, mengikuti arahan petugas, dan tidak memaksakan perjalanan ketika kondisi berbahaya merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan oleh pengguna jalan. Kesiapsiagaan tidak selalu harus berbentuk pembangunan fisik yang besar. Pengetahuan dan kebiasaan masyarakat juga merupakan bagian dari kemampuan menghadapi bencana.

Advertisement
BANNER POSISI 14
Scroll kebawah untuk lihat konten
Evaluasi semacam ini bukan untuk mencari siapa yang salah. Tujuannya adalah memastikan bahwa pengalaman dari satu bencana tidak berhenti sebagai berita yang kemudian dilupakan setelah keadaan kembali normal. Pengalaman tersebut dapat menjadi bahan untuk memahami risiko dan memperbaiki kesiapan menghadapi kejadian berikutnya.

Pada akhirnya, pertanyaan “jalan sudah dibuka, apakah risiko sudah selesai?” bukanlah pertanyaan untuk menyalahkan pihak tertentu. Ini adalah pertanyaan tentang bagaimana kita memaknai pemulihan setelah bencana.

Terbukanya kembali jalan Solok–Padang tentu merupakan kabar baik. Namun, pemulihan akses seharusnya dapat berjalan bersamaan dengan upaya memahami kembali kondisi kawasan dan meningkatkan kesiapsiagaan. Sebab jalan yang kembali terbuka memang memulihkan mobilitas, tetapi kewaspadaan tidak seharusnya ikut ditutup.

Bencana mungkin telah berlalu, tetapi pelajarannya seharusnya tetap tinggal. (***)

IKLAN POSISI 15
Bagikan

Opini lainnya
AMSI MEMBER
Terkini
BANNER POSOSI 5
IKLAN LAYANAN MASYARAKAT SAMPAH