Dalam pelaksanaannya, Randai membutuhkan Latihan yang tidak sedikit. Para pemain harus mampu menghafal gerakan, memahami alur cerita, serta menjaga kekompakan dengan anggota kelompok lainnya. Hal ini terlihat pada foto yang saya terakan diatas, Dimana para pemain tampak fokus dan serius dalam melakukan setiap gerakan. Menurut pemahaman saya, proses Latihan tersebut juga mengajarkan kedisiplinan dan tanggung jawab. Seseorang tidak dapat tampil dengan baik tanpa usaha dan Latihan yang sungguh-sungguh.
Nilai-nilai seperti inilah yang menjadikan Randai relevan untuk dipelajari oleh generasi muda saat ini. Selain sebagai sarana pelestarian budaya, Randai juga mendapat media untuk mempererat hubungan sosial. Dalam sebuah kelompok Randai, para pemain berasal dari berbagai latar belakang, namun mereka dipersatukan oleh tujuan yang sama, yaitu menampilkan pertunjukan yang baik. Interaksi yang terjadi selama proses Latihan maupun pertunjukan dapat memperkuat rasa persaudaraan dan solidaritas antara anggota. Nilai ini sangat sesuai dengan falsafah hidup Masyarakat Minangkabau yang menjunjung tinggi semangat kebersamaan dan musyawarah.
Saya berpendapat bahwa keberadaan Randai perlu mendapatkan perhatian yang lebih besar, baik dari Masyarakat maupun Lembaga Pendidikan. Sekolah dan perguruan tinggi dapat menjadikan Randai sebagai salah satu kegiatan ekstrakulikuler atau bagian dari pembelajaran budaya daerah Minangkabau.
Dengan mengenal, mempelajari, dan mencintai budaya sendiri, kita dapat memastikan bahwa warisan budaya tersebut tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. Saya berharap kesenian Randai akan terus berkembang dan tetap menjadi kebanggaan Masyarakat Minangkabau, sekaligus menjadi salah satu kekayaan budaya Indonesia yang dikenal oleh dunia. Dengan demikian, nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya dapat terus diwariskan dan menjadi pedoman dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. (***)







