Nabi Adam, misalnya. Ketika Allah berkehendak tanpa ibu dan bapak, maka wujudlah Nabi Adam. Nabi Isa, ujarnya memberikan contoh lain, yang lahir dari seorang ibu bernama Siti Maryam, seorang wanita suci yang dihamilkan oleh Allah. Dengan iman itu, menurutnya, kita akan berpikir bahwa semua ini kehendaknya Allah swt. Ketika Allah sudah berkehendak, maka apapun bisa terjadi, termasuk ketika kita dilanda musibah virus corona ini. Ketika iman yang digunakan untuk melihat fenomena ini, maka hal tersebut adalah kehendaknya Allah.
"Kalau kehendaknya Allah, maka balik lagi kita sebagai hambanya harus instrospeksi diri. Kenapa Allah sampai memberikan musibah seperti ini sampai jadi isu internasional," ujar kiai alumnus Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Mojo, Kediri itu.
Pasalnya, Rasulullah saw sudah banyak memperingatkan kita bahwa di akhir zaman nanti bakal banyak wabah penyakit dan hanya umatnyalah yang selamat. Namun, tidak semua umatnya, melainkan mereka yang sering berwudhu.
"Kalau kita kaitkan dengan situasi sekarang, di antara penanggulangan virus corona itu anjuran kedokteran, kita harus memperbanyak cuci tangan. Cuci tangan kan salah satu rukun dalam berwudhu," jelasnya.
"Kalau kita berpandangan bahwa ini adalah sebuah musibah, maka kita harus instrospeksi diri kenapa Allah memberikan musibah seperti ini. Kalau kita berpaham bahwa ini adalah hukuman dari Allah apalagi. Kita harus instrospeksi diri kenapa Allah menghukum kita seperti ini," pungkasnya. Editor
Sumber: nu.or.id
Editor :






