CIREBON - Peringatan sebagai hari Isra dan Mi'raj Rasulullah SAW Tanggal 27 Rajab tahun ini yang jatuh Minggu, 22 Maret 2020, hendaknya diisi dengan memperteguh keimanan, apalagi dalam kondisi tengah mewabahnya virus Corona (Covid-19) saat ini.
"Iman itulah yang paling baik ketika kita menerima apapun dari semua sisi yang ada dalam kehidupan kita di alam ini," kata Ketua Majelis Dzikir dan Shalawat Rijalul Ansor Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor KH Faris Elt Haq Fuad Hasyim di Pondok Buntet Pesantren, Cirebon, Jawa Barat, dilansir NU Online, Ahad (22/3/2020).
Kiai Faris mengatakan bahwa di antara hikmah paling baik dalam peristiwa Isra Mi'raj adalah menerima dengan iman. Sebab, Allah memberikan akal kepada manusia sangat terbatas. Pasalnya, ada teori yang di luar akal dan itu ada, yaitu teori keimanan.
"Akal kadang-kadang terlalu kecil untuk menerima teori keimanan, di antaranya peristiwa Isra Mi'raj," katanya.
Peristiwa tersebut, menurutnya, memang harus diterima dengan iman karena akal terlalu kecil. Bagaimana tidak, katanya, perjalanan ribuan kilometer hanya ditempuh dalam waktu sepertiga malam saja.
Jarak ribuan kilometer itu menembus tiga alam, yakni (1) Alam Lasut atau alam Indrawi meliputi perjalanan dari Makkah ke Baitul Maqdis, (2) Alam Malakut dari Baitul Maqdis ke langit ketujuh, dan (3) alam Lahut dari langit ketujuh ke Sidratul Muntaha.
"Akal gak mampu menerima. Ini menunjukkan bahwa akal itu ada batasnya," kata kiai yang pernah menjadi Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Cirebon itu.
Kiai Faris memberikan contoh anak kecil yang pasti memiliki dua orang tua, yakni ayah dan ibunya. Keduanya itu, katanya, disebut sebab, sedang anak disebut akibat.
"Tapi teori keimanan gak mesti begitu," tegas Ketua Bidang Humas, Kominfo, dan Lingkungan Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Buntet Pesantren itu.
Editor :






