"Biasanya kami yang mengantar pesanan qurban ke rumah orang. Baru kali ini dapat bagian. Rasanya… dihargai," katanya, suaranya sedikit patah di kata terakhir. Kalimat itu sederhana. Tapi cukup untuk membuat siapa pun yang mendengarnya diam sejenak.
Bukan Sekadar Bagi-Bagi Daging
Yang membedakan kegiatan ini dari seremoni pembagian biasa adalah momen-momen kecil di sela-selanya. Dwi Kartika Ningsih menyempatkan diri berbincang satu per satu dengan para driver — mendengar cerita mereka, menanyakan kabar keluarga, dan mendoakan mereka secara personal. Beberapa driver bahkan menitipkan doa untuk keluarga dan para donatur yang tidak mereka kenal namun telah berbuat baik untuk mereka.
"Qurban bukan hanya tentang daging. Ini tentang memastikan tidak ada yang merasa terlupa di hari raya. Apalagi perempuan yang berjuang sendiri untuk keluarga," kata Dwi, saat memeluk erat salah satu driver di penghujung acara.
Daging yang Datang Juga dari Amil Sendiri
Ada satu hal yang membuat Idul Adha tahun ini terasa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Sebagian daging qurban yang dibagikan hari ini bukan hanya berasal dari amanah para donatur — melainkan juga dari patungan para amil Laznas PPPA Daarul Qur'an sendiri. Para karyawan yang sehari-hari bekerja di balik layar itu menyisihkan rezeki mereka, urunan bersama, agar bisa ikut merasakan kebahagiaan menjadi shahibul qurban.
Langkah ini menjadi pengingat yang kuat: semangat qurban tidak hanya hidup di kalangan donatur dan penerima manfaat — tapi juga di dada orang-orang yang bekerja diam-diam di balik setiap paket yang sampai ke tangan yang membutuhkan.
Menjangkau 29 Provinsi hingga Palestina
Kegiatan di Ciledug hanyalah satu titik dari rangkaian penyaluran qurban Laznas PPPA Daarul Qur'an yang tahun ini mencatat angka yang luar biasa. Hingga Kamis (28/5), total penghimpunan hewan qurban mencapai 574 ekor domba/kambing dan 95 ekor sapi, ditambah patungan sapi 1/7 serta program qurban domba untuk daerah pelosok. Distribusi menjangkau 29 provinsi di seluruh Indonesia — hingga ke Palestina dan sejumlah negara lainnya.
Editor : Marjeni Rokcalva






