IKLAN KUPING KANAN PASISI 12
IKLAN POSISI 13

Rektor UNP Krismadinata: Kita Membangun Kecerdasan Intelektual dan Kejernihan Spiritual

Rektor Krismadinata, Ph.D. ketika memberikan sambutan pada pelaksanaan rangkaian salat Idulfitri di halaman Rektorat Universitas Negeri Padang pada Sabtu (21/3) pagi ini. Foto dok ET.
Rektor Krismadinata, Ph.D. ketika memberikan sambutan pada pelaksanaan rangkaian salat Idulfitri di halaman Rektorat Universitas Negeri Padang pada Sabtu (21/3) pagi ini. Foto dok ET.
PT GITO PERDANA SEJAHTERA

Sebagai bagian dari Universitas Negeri Padang/kita memiliki tanggung jawab besar. Kita tidak hanya membangun kampus yang unggul secara akademik, tetapi juga membangun manusia yang utuh cerdas secara intelektual, dan jernih secara spiritual.

Demikian disampaikan Rektor Krismadinata, Ph.D. dalam sambutannya pada pelaksanaan rangkaian salat Idulfitri di halaman Rektorat Universitas Negeri Padang pada Sabtu (21/3) pagi ini.

Rektor Krismadinata, Ph.D. juga menyampaikan terima kasih kepada Al-Ustadz Muhammad Yusuf El-Badri, M.A yang menjadi Khatib dan memberikan Khutbah Idul Fitri 1447 H/2026 M pada pagi ini dan Ikhwanuddin Hasibuan yang menjadi Imam salat Idulfitri.

Pada kesempatan itu hadir Ketua Majelis Wali Amanat UNP, Ketua Senat Akademik Universitas, Wakil Rektor, Senior Eksekutif, Sekretaris Universitas, Dekan dan Direktur Sekolah, Wakil Dekan/ Direktur Sekolah dan Pimpinan, keluarga besar Universitas Negeri Padang, baik para dosen, tenaga kependidikan dan keluarganya, mahasiswa, kaum muslimin dan muslimat, sekitar kampus UNP atau dari wilayah lainnya di Kota Padang.

Jamaah salat Idulfitri di halaman Rektorat Universitas Negeri Padang.
Jamaah salat Idulfitri di halaman Rektorat Universitas Negeri Padang.


Rektor Universitas Negeri Padang Krismadinata, Ph.D. menyampaikan bahwa kita hidup di zaman yang serba cepat, kita mengejar target, capaian, reputasi, bahkan pengakuan, namun sering kali di tengah semua itu kita kehilangan sesuatu yang paling penting ketenangan hati.

"Ramadhan sebenarnya telah mengajarkan kita sebuah rahasia sederhana: bahwa kebahagiaan tidak datang, banyaknya yang kita miliki, tetapi dari cukupnya hati kita," jelas Rektor Krismadinata, Ph.D.

Pada kesempatan itu, Rektor Krismadinata, Ph.D. menyampaikan bahwa kita pernah merasa tenang hanya dengan berbuka sederhana, kita merasa damai hanya dengan duduk lama setelah shalat, kita pernah merasakan bahagia tanpa harus menunjukkan apa-apa kepada siapapun.

"Namun tantangan sesungguhnya justru dimulai hari ini. Ketika Ramadhan telah pergi, apakah nilai-nilai itu ikut pergi? Atau justru kita bawa dalam kehidupan kita?" tukuk Rektor Krismadinata, Ph.D.

Lebih lanjut Rektor Krismadinata, Ph.D. menyampaikan Idulfitri bukan sekadar kembali memakai pakaian baru, tetapi kembali memiliki hati yang baru, bukan sekadar bersih secara lahir, tetapi bersih dalam cara kita melihat orang lain, bersih dalam cara kita berbicara, bersih dalam cara kita bekerja.

"Jika setelah Ramadhan kita menjadi lebih jujur dalam tugas, lebih lembut dalam berbicara, lebih peduli kepada sesama, maka itulah tanda Ramadhan benar-benar hidup dalam diri kita. Namun jika tidak ada yang berubah, maka mungkin kita hanya menjalani Ramadhan secara fisik, belum menyentuh ruhnya," tukuk Rektor Krismadinata, Ph.D.

Ustadz Muhammad Yusuf El-Badri, M.A. dalam khutbahnya menyampaikan bahwa
Ramadan mengantarkan manusia menjadi manusia yang berhati suci dan bening.

Jelas Ustadz Muhammad Yusuf El-Badri, M.A., Id berarti kembali, sedangkan Fitri atau fitrah berarti sifat awal kejadian manusia dan Idulfitri berarti juga kembali kepada Allah swt.

"Orang-orang kembali kepada allah karena telah membersihkan ruhani dan jiwanya selama ramadhan, mulai dari bertaubat sebelum ramadhan, menahan haus dan lapar selama ramadhan dan membersihkan hati dari dosa dengan istigfar dan ibadah sunnah selama ramadhan," jelas Ustadz Muhammad Yusuf El-Badri, M.A.

Kata Ustadz Muhammad Yusuf El-Badri, M.A., orang berhati suci itu ditandai paling tidak 4 hal yakni mereka mempunyai kemampuan memaafkan orang lain. "Sebab memaafkan membutuhkan kebersihan hati. Hanya orang yang bersih hatinya yang mampu memberi maaf pada orang lain. Sebaliknya orang yang berhati kotor tidak akan mampu memaafkan dan melupakan kesalahan orang lain," tambah Ustadz Muhammad Yusuf El-Badri, M.A.

Lebih lanjut, Ustadz Muhammad Yusuf El-Badri, M.A. menyampaikan bahwa mereka menyambung silaturrahmi dan silat artinya menghubung, rahmi berarti kasih sayang. Orang yang berhati bening dan suci secara psikologis akan punya kemampuan mengubung kasih sayang yang telah putus.
"Mereka yang tidak terikat pada dunia sehingga punya kemampuan memberi sedekah tanpa takut kekurangan. Mereka akan saling mendoakan satu dengan yang lain," jelas Ustadz Muhammad Yusuf El-Badri, M.A. (ET)

Editor : Ermanto
IKLAN POSISI 15
Bagikan

Berita Terkait
AMSI MEMBER
Terkini
BANNER POSOSI 5
IKLAN LAYANAN MASYARAKAT SAMPAH