Terbukti pada tahun sebelumnya, ia pernah menjual pohon sengon yang sudah berusia lima tahun tersebut bersama masyarakat yang juga menanam pohon sengon ini, sebanyak 200 kubik lebih terjual dengan harga Rp200 ribu hingga Rp1 juta permeter kubik.
" Sesudah itu, kita kembali menanam bibit baru mulai tahun 2016. Jika pohon ini sudah tumbuh besar nanti, saya berencana tidak akan menjualnya demi menjaga keseimbangan lingkungan di Desa Kajai, khususnya Kota Pariaman agar tetap asri ", imbuhnya.
Ia juga menceritakan pengalamannya pada tahun 2011 pernah menerima kalpataru sebagai pengabdi lingkungan dari Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sumatera Barat hingga mengantarkannya ke istana negara bertemu langsung dengan presiden SBY ketika itu.
"Penghargaan yang saya terima tersebut karena keberhasilan saya dalam mengelola lahan tidur menjadi hutan yang ditumbuhi puluhan jenis pohon, salahsatunya pohon sengon yang cukup langka ditemui pada saat itu dan pohon tersebut sampai sekarang masih hidup telah berusia 14 tahun ", tukasnya.
Untuk tahun 2020 ini, ia kembali berkesempatan mewakili Kota Pariaman dalam penilaian Kalpataru tingkat Prov Sumatera Barat.
"Semoga bisa mewakili Kota Pariaman sampai ke nasional ", harapnya.
Ia menghimbau kepada masyarakat, untuk memanfaatkan lahan tidur dengan menanam pohon yang nantinya bisa dipanen hasil. Karena dengan menanam pohon dapat menjaga iklim agar tetap sejuk dan segar serta dapat meminimalisir kemungkinan bencana tanah longsor yang kapan saja bisa terjadi. Selain untuk menjaga keseimbangan lingkungan, pohon yang ditanam tersebut juga bisa diolah sehingga menghasilkan nilai ekonomi.
" Semoga semakin banyak lagi masyarakat yang sadar tentang perlunya menjaga dan melestarikan lingkungan, karena lingkungan adalah paru-paru dunia. Tak bisa dibayangkan indonesia sepuluh tahun kedepan akan menjadi apa jika pohon terus-menerus ditebang demi kepentingan-kepentingan oleh pihak tertentu ", tutup Mursal. (Hms/Erwin)
Editor : Berita Minang






