IKLAN KUPING KANAN PASISI 12
IKLAN POSISI 13

Tim Dosen UNP Latih Biokonversi Limbah Sayuran ke Petani Nagari Batu Bajanjang Solok

Tim Dosen UNP foto bersama dengan peserta pelatihan di Nagari Batu Bajanjang, Kecamatan Lembang Jaya, Solok, Sumbar, 19 Juli 2025. Foto-Foto: Tim Pengabdian
Tim Dosen UNP foto bersama dengan peserta pelatihan di Nagari Batu Bajanjang, Kecamatan Lembang Jaya, Solok, Sumbar, 19 Juli 2025. Foto-Foto: Tim Pengabdian
PT GITO PERDANA SEJAHTERA

SOLOK - Tim dosen lintas Program Studi dari Universitas Negeri Padang (UNP) telah melaksanakan kegiatan pengabdian di daerah penghasil sayuran, Nagari Batu Bajanjang, Kecamatan Lembang Jaya, Solok, Sumbar. Tema pengabdian ini adalah “Biokonversi Limbah Sayuran menjadi Pupuk Organik Cair untuk Mendukung Pertanian Berkelanjutan dan Ketahanan Ekonomi”. Kegiatan ini dihadiri oleh para petani yang antusias mengikuti pelatihan dari awal hingga akhir

Pengabdian yang dimulai pada 19 Juli 2025 tersebut merupakan implementasi nyata dari pelaksanaan salah satu Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu Pengabdian Kepada Masyarakat. Tim pengabdian terdiri dari dosen-dosen dari Jurusan kimia, Agroindustri dan Tata Boga UNP ini didukung mahasiswa Kimia UNP.

Kegiatan pengabdian ini dilatarbelakangi oleh permasalahan serius yang dihadapi oleh petani lokal dan Nagari Batu Bajanjang yaitu menumpuknya limbah sayuran yang tidak terkelola dan tingginya ketergantungan pada pupuk kimia.

“Nagari Batu Bajanjang dikenal sebagai salah satu sentra penghasil sayuran di Sumatera Barat. Namun, tingginya aktivitas pertanian juga memberikan dampak negatif terhadap lingkungan, yaitu besarnya volume limbah sayuran yang dihasilkan dari aktivitas pertanian dan limbah sayuran yang tidak terjual di pasar,” sebut Ahadul Putra, M.Si selaku ketua tim pengabdian.

Para peserta pelatihan sedang praktek.
Para peserta pelatihan sedang praktek.

Ahadul kemudian menyambung, jika hal ini tidak ditangani lebih lanjut, maka limbah sayuran dikhawatirkan menyebabkan pencemaran lingkungan, salah satunya peningkatan emisi gas metana. Selain itu, beberapa petani sering mengalami kerugian karena mahalnya harga pupuk kimia yang dibutuhkan selama pertumbuhan tanaman.

Advertisement
BANNER POSISI 14
Scroll kebawah untuk lihat konten
“Tidak hanya itu, penggunaan pupuk kimia secara terus menerus tidak selalu meningkatkan hasil panen karena dapat mengurangi kesuburan tanah. Lebih jauh, penggunaan pupuk kimia ini juga dapat mencemari lingkungan. Oleh karena itu, kami tim pengabdian berinsiatif memberikan penyuluhan dan pelatihan kepada masyarakat sehingga dapat memanfaatkan limbah sayuran menjadi pupuk organic cair," tambah Ahadul Putra.

Kegiatan pengabdian yang dihadiri oleh 20 orang petani dibuka secara resmi oleh Wali Nagari Batu Bajanjang, Ulil Amri. Dalam sambutannya, Wali Nagari menyampaikan apresiasi kepada UNP yang diwakili oleh tim pengabdian karena telah memberikan penyuluhan serta pelatihan kepada Masyarakat.

Dia berharap bahwa masyarakat dapat memperoleh banyak ilmu tentang bahaya limbah pertanian dan penggunaan pupuk kimia yang berlebihan. Pelatihan ini menjadi titik awal perubahan pola pikir masyarakat dalam mengelola limbah pertanian. Selain itu, dia berharap agar masyarakat memiliki keterampilan dalam pembuatan pupuk organik cair dengan memanfaatkan limbah pertanian.

“Selaku Wali Nagari kami mengharapkan kegiatan ini dapat berlanjut pada masa yang akan datang,” tukuknya.

Pelatihan melibatkan petani lokal dan difasilitasi dengan modul, peralatan praktik, serta bahan pendukung pembuatan pupuk organik cair (POC). Pemateri utama pengabdian ini, Edi Nasra, M.Si. menyampaikan penjelasan mendalam tentang limbah organik dan bahayanya, kandungan nutrisi limbah sayuran, potensi limbah sayuran, pupuk organik cair, dan tahapan yang perlu dilakukan untuk mengubah limbah sayuran menjadi pupuk organik cair.

Editor : Marjeni Rokcalva
IKLAN POSISI 15
Bagikan

Berita Terkait
AMSI MEMBER
Terkini
BANNER POSOSI 5
IKLAN LAYANAN MASYARAKAT SAMPAH