Dua yg pertama adalah paleontolog, sedangkan dua yg terakhir adalah ahli ilmu hayati alias biolog. Mulai dari Homo Wajakensis sampai jejak spesies yg terpisah garis geografis semua terpetakan dengan ceta wala wala kata orang Jawanya di Nusantara. Demikian pula sejarah tentang bentang alam yg menandai perubahan fase stratigrafi tercetak sempurna di negeri ini.
Ada catatan dari era Jura (triassic), lalu naik turunnya permukaan laut di era Holosen, dan banyak lagi jejak geologis yang menjadikan negeri ini sebagai sebuah "sekolah alam" sekaligus diberkahi sumber daya berupa potensi cadangan hidrokarbon dan mineral. Tak pelak dari negeri cantik nan kaya potensi ini, lahir pula manusia-manusia unggul dgn kapasitas kompetensi luar biasa, terkadang jauh melampaui jamannya.
Lihatlah berbagai kedalaman susastra di berbagai pupuh. Lihatlah kajian literasi komprehensif sebagaimana terdapat dalam berbagai kitab lontara, sampai dasar konstitusi yg termaktub di Negarakertagama karya Empu Prapanca, juga kitab panduan fungsi eksekutif dan yudikatif kerajaan besar Wilwatikta (Majapahit) yg berjudul Kutara Manawa Dharmasastra, yg ditulis dan dibukukan di era kejayaan kerajaan maritim terbesar di Asia itu.
Siapa yg tak mengenal Empu Barada dan kewaskitaan Prabu Airlangga ? Siapa yg tak tahu catatan sejarah tentang Aki Tirem dan Kerajaan Salaka Nagara di awal abad masehi yang bahkan membuat seorang penjelajah dunia, Ptolomeus, terkagum-kagum dengan kota Argyre atau kota peraknya ? Tetapi esensi dari semua kebesaran dan keadiluhungan budaya itu lah yg semestinya kita ekstrak dan elaboraso hingga menjadi energi bagi elan perbaikan diri. Transformasi yg berabad terjadi telah menjadikan bangsa kita memiliki spektrum budaya yg sedemikian heterogennya.
Disorientasi ini dapat dimodulasi dan dikatalisa menuju arah dimana vektor dari energi kinetik perubahan akan menghasilkan resultante yang sesuai dengan jati diri bangsa yang berorientasi pada proses memuliakan dan memanusiakan manusia. Strategi kebudayaan harus mampu mengeliminir berbagai faktor distorsi dan menganalisasi segenap potensi hingga menjadi seberkas "cahaya putih" yang merupakan hasil akhir meleburnya setiap unsur dalam spektrum gelombang cahaya dengan panjang yang berbeda - beda. Karakter individu akan berkumpul menjadi karakter bangsa jika ada "fiber optic" budaya yang mampu menyatukan arah dan segenap daya menuju satu tujuan bersama.
Syaratnya memang tak mudah, setidaknya kita wajib mengenal dan memahami akar budaya bangsa yang tertempa dalam perjalanan peradaban yang telah berlangsung selama ribuan tahun.
(MR) Editor : Berita Minang






