DULU ketika saya sedang tergila-gila dengan puisi, saya ingin mengalahkan semangat dan totalitas seorang Chairil Anwar. Saya ingin mengalahkan puisi-puisi WS Rendra yang membakar semangat perlawanan. Saya ingin mengalahkan "sihir" dan dalamnya puisi-puisi Subagio Sastrowardoyo, Gunawan Muhammad, Sapardi Djoko Damono. Saya ingin membuat lompatan baru seperti Sutardji dan Afrizal Malna. Saya ingin menyamai Bumi Manusianya, Pram. Saya ingin menulis karya seperti Ernes Hemingway, Pablo Neruda, Herman Hesse dan banyak manusia hebat dengan karya hebat lainnya.
Suatu waktu saya bertemu Da Gus tf Sakai dalam acara whorkshop menulis Cerpen yang diadakan Dewan Kesenian Sumatera Barat. Waktu itu, saya masih mahasiswa menjadi peserta whorkshop bertempat di INS Kayutanam. Saya perhatikan Da Gus tf menjadi instruktur begitu cermat, begitu teliti dan sangat hati-hati. Beliau memperhatikan setiap kata, setiap kalimat dan paragraf yang dibuat. Itu pertama kali saya perhatikan beliau yang begitu serius dalam mencermati setiap karya yang ditulis atau dibuat orang.
Beberapa kali saya bertamu ke rumah beliau di Payakumbuh. Beliau ceritakan kepada saya dan kawan yang datang bersama saya, bahwa beliau telah mengatur jam kerjanya sebagai penulis di rumah beliau. Ibarat berkantor, Da Gus tf membuat aturan kantor dan bekerja untuk dirinya sendiri.
Beberapa kali juga saya saat menjadi pengurus di Dewan Kesenian Sumatera Barat, komite saatra meminta Da Gus tf menjadi instruktur menulis puisi dan cerpen. Begitu juga ketika saya jadi ketua Dewan Kesenian Tanah Datar, saya meminta beliau jadi instruktur whorkshop menulis sastra untuk siswa dan mahasiswa di Tanah Datar. Saya masih ingat nama komunitas yang diusulkan Da Gus untuk tindak lanjut peserta whorkshop. "Komunitas Lembar" namanya. Nama yang "keren" hehe.
Dalam diskusi-diskusi sastra Da Gus tf selalu mengatakan dia hanya bisa menulis. Saya pikir maksud beliau menyatakan, bahwa dia telah memilih jadi penulis dan hanya tetap akan jadi penulis.
Saya hanya orang yang hidup dan bekerja dalam peran "sekadarnya saja". Mungkin saya belum menjadi seseorang yang mampu mengerahkan semua energi secara total untuk bidang kehidupan yang saya jalani. Bagaimana saya bisa "besar" dalam pekerjaan dan dunia yang saya tekuni.
Saya percaya para pemimpin dunia, ilmuwan-ilmuwan besar, orang-orang sukses dan para penemu adalah mereka yang total dalam hidupnya. Saya tahu Kitaro itu total, Crisye, Idris Sardi dan Iwan fals itu memiliki totalitas dalam bekerja dalam hidupnya.
Saya yakini Bung Karno, Bung Hatta, Tan Malaka, Syahril dan para pejuang kemerdekaan telah mencurahkan seluruh pikiran, hari dan tenaga mereka berjuang dan memerdekakan bangsa Indonesia. Hingga kita bisa menikmati kehidupan sebagai suatu bangsa hari ini.
Ingat itu semua, ingat pula saya dengan Da Gus tf, totalitas adalah syarat untuk mencapai puncak-puncak karya dan kehidupan. Sedang sampai kini saya hanya merasa jadi orang yang "sekadarnya" saja. Semoga saya dan kita yang masih jadi manusia "sekadarnya saja" bisa jadi lebih total dalam mencurahkan energi untuk hal-hal yang terbaik yang ingin kita raih hari ini dan masa datang. (***)







