MINANGKABAU merupakan salah satu suku kebudayaan unik yang berada di Sumatera Barat, Indonesia. Suku Mnangkabau dikatakan unik karena suku ini memiliki sistem kekerabatan yang berbeda dengan suku-suku lainnya, suku ini menganut sistem kekerabatan matrilineal, yaitu sistem kekerabatan menurut garis keturunan ibu.
Masyarakat Minangkabau juga memiliki kepandaian yang luar biasa dalam berbicara, seperti dalam menyampaikan nilai-nilai kehidupan seperti petatah-petitih dan peribahasa. Setiap budaya memiliki cara tersendiri dalam menyampaikan nilai-nilai moral dan prinsip hidup.
Bagi masyarakat Minangkabau, peribahasa menjadi salah satu media utama yang digunakan untuk menanamkan ajaran-ajaran yang telah ada sejak dahulu yang disampaikan secara turun-temurun. Peribahasa bukan hanya sebagai ungkapan yang indah, tetapi juga mengandung makna filosofis yang dalam, baik itu tentang kehidupan sosial, hubungan sesama dan nilai kebudayaan. Peribahasa atau pepatah di Minangkabau itu kebanyakan menggambarkan kehidupan melalui perumpamaan yang berasal dari alam dan kehidupan sehari-hari.
Salah satu peribahasa di Minangkabau yaitu “labiah manusia karano aka, labiah buruang karano sayok”. Dalam bahasa Indonesia, peribahasa ini diartikan sebagai “manusia menjadi lebih unggul karena memiliki akal, sedangkan burung menjadi lebih unggul karena mempunyai sayap”. Secara sederhana peribahasa ini membandingkan antara manusia dengan burung untuk menunjukkan bahwa setiap makhluk hidup ciptaan tuhan memiliki “alat” atau kelebihan utama yang menjadi identitas utama dan daya hidup disetiap makhluk hidup.
Dalam ungkapan ini terdapat nilai filosofis yang bermakna dalam, bahwa akal adalah inti utama dari kemanusiaan, dan sebagaimana sayap merupakan inti utama burung yang membedakan dengan hewan lainnya. Tanpa akal, manusia bukanlah manusia dalam pengertian moral dan sosialnya sebagai manusia.
Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan makhluk yang lainnya, namun dalam tradisi Minangkabau, yang diutamakan buaknlah hanya fisik, kekayaan, atau status sosial, melainkan ialah akal. Akal bukan hanya sekedar kemampuan untuk berfikir logis, tetapi mencakup moral, kebijaksanaan, dan kemampuan dlam memahami situasi sosial disekitar.
Akal adalah sesuatu yang tidak terlihat secara fisik, tapi pengaruhnya sangat nyata dalam berucap, sikap, dan tindakan yang dilakukan seseorang. Orang Minang percaya bahwa jika seseorang yang tinggi akalnya akan mampu dalam beberapa hal yaitu, mampu menjaga lisan dan perbuatannya, mampu membedakan antara mana yang baik dengan yang buruk, serta tidak bertindak sesuka hatinya sendiri.
Oleh karena itu, peribahasa ini menegaskan bahwa kemuliaan manusia bukan hanya dilihat dari rupa dan harta yang dimiliki, tetapi dilihat dari daya piker dn kebijaksanaannya dalam kehidupan sosial. Jadi hal ini sejalan dengan falsafah Minangkabau yang berbunyi “aka jo budi duo tagaknyo”, yang berarti sangat menjunjung tinggi akal dan budi perkerti, Dimana akal dan budi itu merupakan dua penopang kehidupan manusia.
Sayap sebagai Simbol Kodrat Hidupnya







