Laporan: Syofiardi Bachyul Jb dari Wamena, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua
WAMENA -Tadi saya bersama kawan-kawan berkeliling melihat kondisi Wamena. Kerusuhan 23 September lalu terjadi di tiga distrik di Kabupaten Jayawijaya. Distrik adalah wilayah yang sama dengan kecamatan.
Ketiga distrik adalah Distrik Wamena yang merupakan kawasan pusat kota, kemudian bersebelahan dengan Distrik Hubikiak, dan di sisi lain Distrik Wouma.
Lokasi toko para perantau Minang yang menjadi korban terdapat di Distrik Wamena. Sedangkan distrik terparah adalah Distrik Hubikiak. Distrik ini terletak di pintu masuk empat kabupaten di wilayah pegunungan Papua, yaitu Kabupaten Yalimo, Tolikara, Mamberamo Tengah, dan Lany Jaya. Terusannya Tolikara adalah jalur menuju Kabupaten Puncak Jaya.
Kami berkeliling di Distrik Hubikiak. Deretan toko terlihat telah menjadi puing. Di dalam toko terlihat bangkai kendaraan roda dua. Kami melihat sejumlah petugas PLN sedang memperbaiki kabel di tiang listrik. Beberapa TNI menyandang senjata menjaga mereka. Kejadian tersebut menyebabkan travo meledak, sehingga listrik padam hingga kini. Petugas PLN sudang mengganti travo dan mengganti kabel yang rusak karena terbakar.
Sejak kejadian, aliran listrik padam di seluruh Wamena dan sekitarnya. Bahkan listrik di Wamena baru bisa menyala pada Jumat atau hari kelima. Ini disebabkan banyak instalasi yang rusak, bahkan kantor UP3 (Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) PT PLN Wamena juga ludes dibakar massa.
Kami bercerita tentang kampung halaman. Ternyata keluarga Pak Junaedi berasal dari By Pass, Kota Padang. Tak jauh dari tempat tinggal saya di Padang.
Kami wartawan masih berhati-hati memotret dan mengambil video karena terasa kondisi belum begitu kondusif. Jalanan masih terasa sepi, toko-toko rusak masih dibiarkan pemiliknya, meski ada beberapa toko yang tidak terbakar sudah buka dan pemiliknya bukan asli Papua, mereka terlihat sudah tidak khawatir dengan keadaan.
Dari Hubikiak kami berkeliling di Kota Wamena. Kami cukup lama di Kantor Bupati Jayawijaya yang sudah menjadi puing. Banyak bangkai mobil dan sepeda motor, termasuk truk Satpol PP. Bangunan yagn megah dan besar itu tinggal puing. Juga termasuk beberapa bangunan dinas di sekitarnya. Tiga pegawai yang datang mengais sisa bangunan bercerita tentang kejadian Senin pagi itu. Arsip di kantornya tidak terselamatkan.
Editor : Berita Minang






