Kata Ade, anaknya tersebut baru berumur 48 hari. Pada pertengahan Mei lalu, istrinya meninggal dunia. Beberapa hari setelah melahirkan, istrinya harus diisolasi di rumah sakit RSUD Dr Doris Sylvanus Palangkaraya karena gagal fungsi paru-paru. Dirinyalah yang mendampingi istrinya di rumah sakit. Setelah hampir selama setengah bulan di rumah sakit, istrinya pun berpulang.
Sekarang, anaknyalah yang harus diisolasi di rumah sakit karena gejala Covid-19.
Karena ingin pulang kampung bersama anak dan mertuanya, Ade berhenti dari pekerjaan.
"Saya ingin membawa anak dan mertua pulang kampung. Saya berhenti karena ingin pulang kampung habis. Anak dan mertua kan Ndak mungkin pulang kampung berdua. Jadi, saya pulang kampung bersama mereka. Saya sudah membuat surat resign pada 6 juni kemarin. Saya ingin mendampingi anak di kampung," tuturnya.
Meski demikian, atas cobaan yang dihadapi, Ade berusaha untuk tetap tegar. Pihak maskapai telah mengembalikan uang pembelian tiket penerbangannya.
Kata Ade, dia akan berusaha menggunakan uang tersebut untuk biaya sehari-hari selama anak dan mertuanya berada di rumah sakit. Kata Ade, berdasarkan informasi yang dihimpunnya, hasil pemeriksaan swab anaknya akan keluar 15 - 20 hari lagi. Ade, anak, dan mertuanya tidak memiliki kerabat di rantau.
"Di sini, kami tidak ada siapa-siapa. Kalau habis pitih, dan kalau anak sudah keluar dari rumah sakit (karena dinyatakan sehat), saya tidak tahu kelanjutannya bagaimana," terangnya.
Dia meminta agar masyarakat ikut mendoakan kesembuhan anaknya. Ade juga berharap agar Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) atau masyarakat Minang yang ada di Sumbar atau di rantau untuk membantu proses pemulangannya bersama anak dan mertuanya.
"Saya berharap ada pihak yang membantu proses kepulangan kami," sebutnya.
Editor :






